TERMINALNEWS.ID, JAKARTA — Pegiat sepak bola usia dini, Taufik Jursal Effendi atau yang akrab disapa TJE ini, menggagas konsep Jakarta International Football Tour & Junior International Football Expo (JIF Tour & JI Football Expo) sebagai ajang sepak bola yang tidak sekadar turnamen biasa.
Menurut TJE, konsep tersebut dirancang sebagai perpaduan antara sport tourism, pencarian bakat, bisnis sepak bola, pendidikan, hingga pengelolaan data pemain berbasis teknologi. Ia menyebut, jika seluruh sistem berjalan maksimal, Jakarta berpotensi menjadi “Dubai-nya sepak bola Asia”.
“Orang datang bukan cuma untuk menonton pertandingan, tetapi juga membeli, menjual, investasi, hingga mencari talenta,” ujar TJE.

TJE menegaskan JIF Tour bukan turnamen antarkampung biasa. Setelah lebih dari 30 tahun berkecimpung di sepak bola usia dini, ia menyusun lima aspek utama yang menjadi fondasi event tersebut.
1. Sport Tourism
Program ini menggabungkan coaching clinic, pertandingan, dan wisata kota selama tujuh hari di Jakarta. Peserta direncanakan berasal dari sekolah sepak bola Jepang, Korea Selatan, ASEAN, hingga Australia.
Agenda harian akan diisi latihan pagi, wisata siang ke kawasan seperti Monumen Nasional, Kota Tua, hingga Jakarta International Stadium, serta pertandingan pada malam hari.
TJE memperkirakan satu peserta dapat mengeluarkan biaya sekitar USD 1.000. Jika diikuti 1.000 anak, perputaran uang yang masuk ke Jakarta diperkirakan mencapai USD 1 juta atau sekitar Rp16 miliar.
Program ini juga dikaitkan dengan koperasi sepak bola Kopaxi dan jaringan pendidikan Al Azhar. Kopaxi direncanakan membuka kios merchandise dan kuliner di area stadion serta hotel, sementara Al Azhar disiapkan menjadi host homestay berbasis syariah.
2. Talent Showcase
JIF Tour juga akan menghadirkan turnamen kelompok usia U-13 dan U-15 dengan format liga dan playoff. Seluruh pertandingan akan direkam menggunakan teknologi Volta AI untuk menghasilkan database performa pemain secara langsung.
TJE menyebut konsep ini mempermudah klub dan pencari bakat internasional dalam memantau ribuan pemain muda sekaligus tanpa harus berkeliling Asia.
“Scout dari Ajax, Como, atau J-League cukup datang ke Jakarta selama seminggu untuk melihat ribuan pemain,” katanya.
Selain itu, juara kategori U-15 direncanakan mendapatkan beasiswa pendidikan serta peluang kontrak akademi klub.
3. Football Business Expo
Berbeda dengan turnamen usia muda pada umumnya, JIF Tour juga akan menghadirkan expo bisnis sepak bola di kawasan JCC.
Pameran itu dirancang menghadirkan perusahaan apparel, teknologi GPS vest, Volta AI, nutrisi olahraga, agen pemain, hingga universitas. Seminar bisnis sepak bola juga akan digelar, termasuk pembahasan mengenai IPO klub dan penggunaan AI untuk akademi sepak bola.
TJE menyebut konsep tersebut mirip “GIIAS-nya sepak bola”, karena membuka peluang kerja sama bisnis lintas negara.

4. Education & Certification
Aspek pendidikan menjadi salah satu fokus utama dalam JIF Tour. Selama event berlangsung, akan digelar lisensi kepelatihan AFC level D dan C secara massal.
Selain itu, orang tua pemain juga akan mendapatkan workshop mengenai pentingnya pendidikan formal bagi atlet muda. Sementara itu, simposium khusus akan membahas kurikulum sepak bola bersama pihak Al Azhar.
Program ini juga membuka peluang pengembangan pendidikan tinggi di bidang bisnis sepak bola.
5. Legacy dan Database Pemain
Seluruh data pemain yang tampil dalam JIF Tour akan masuk ke sistem Volta AI. Nantinya, data tersebut akan digunakan untuk membuat pemeringkatan pemain muda nasional.
TJE mengatakan, konsep ini membuat event tidak berhenti setelah turnamen selesai. Klub luar negeri dapat mencari pemain berdasarkan data spesifik seperti posisi, kaki dominan, hingga kapasitas fisik.
“Klub Eropa tinggal filter kebutuhan pemain yang mereka cari,” ujarnya.
Alasan Klub dan Investor Disebut Akan Tertarik
Menurut TJE, konsep expo dan showcase ini lebih menarik bagi investor maupun klub asing dibanding langsung membeli klub di Indonesia yang dinilai memiliki risiko tinggi.
Ia menyebut, klub cukup menyewa booth dan mengirim pencari bakat dengan biaya relatif kecil. Jika menemukan pemain potensial, investasi jangka panjang bisa memberikan keuntungan besar.
Selain itu, perusahaan juga dapat memanfaatkan program beasiswa sebagai bagian dari CSR sekaligus memperoleh eksposur media.
Target Digelar pada 2027
TJE menargetkan JIF Tour dan Junior International Football Expo edisi perdana digelar pada Juli 2027, bertepatan dengan libur sekolah dan perayaan 500 tahun Jakarta.
Roadmap yang disusun dimulai dari peluncuran Volta AI pada Oktober 2026, pembukaan pendaftaran peserta pada Januari 2027, hingga mini expo uji coba di Jakarta International Stadium pada Juni 2027.
Event perdana ditargetkan diikuti 100 tim, 2.000 pemain muda, dan 50 booth bisnis sepak bola.
Tantangan yang Harus Diantisipasi
TJE juga menyoroti sejumlah tantangan yang dapat menghambat event menuju level internasional.
Salah satunya adalah kualitas penyelenggara acara. Ia menilai event harus dikelola secara profesional dengan standar operasional ketat agar tidak mengecewakan peserta internasional.
Selain itu, keamanan data Volta AI menjadi perhatian penting. Sistem keamanan berbasis standar internasional disebut perlu diterapkan untuk mencegah kebocoran data pemain.
Faktor politik juga dinilai berpotensi memengaruhi keberlangsungan event. Karena itu, TJE menilai pembiayaan harus lebih banyak bertumpu pada sponsor dan peserta, bukan anggaran pemerintah daerah.
Di akhir pemaparannya, TJE mengaitkan gagasan tersebut dengan semangat legenda sepak bola Indonesia, Maulwi Saelan, yang pernah tampil di Olimpiade Melbourne 1956.


