JAKARTA,TERMINALNEWS.ID –| Keterbatasan jumlah layar bioskop di Indonesia menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan industri film nasional. Untuk menjawab persoalan tersebut, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meninjau fasilitas Layar Digi, sebuah konsep micro cinema berbasis digital yang dikembangkan di kawasan Gading Serpong, Tangerang, Kamis (5/3).
Konsep micro cinema ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman menonton film yang lebih dekat, fleksibel, dan terjangkau bagi masyarakat. Kehadiran fasilitas tersebut juga diharapkan mampu menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini belum memiliki bioskop konvensional.
Dalam kunjungannya, Fadli Zon bersama para undangan turut menyaksikan demo screening teaser film animasi Knight Kris. Pemutaran tersebut memberikan gambaran awal mengenai kualitas visual serta pengalaman menonton yang ditawarkan oleh Layar Digi.
Fadli Zon mengapresiasi inovasi tersebut sebagai langkah kreatif untuk menjawab persoalan distribusi layar di Indonesia. Menurutnya, keterbatasan jumlah layar selama ini berdampak pada sempitnya ruang tayang bagi film-film nasional, terutama di daerah.
“Inovasi luar biasa dengan cara berpikir yang out of the box untuk menyediakan atau menjawab tantangan yang kita hadapi yaitu kekurangan layar. Ini mengisi ruang-ruang kosong yang masih ada karena belum adanya bioskop di daerah-daerah,” ujarnya.
Ia menilai, perkembangan industri film Indonesia saat ini menunjukkan tren yang positif dengan pangsa pasar domestik yang semakin kuat. Namun, penguatan ekosistem tetap diperlukan, terutama dalam menjaga keseimbangan distribusi film dan minat masyarakat untuk menonton di bioskop.
Menurut Fadli Zon, konsep Layar Digi bahkan berpotensi hadir hingga tingkat kecamatan.
“Layar Digi ini bisa hadir sampai kecamatan, bahkan ke daerah-daerah yang belum memiliki bioskop. Peluangnya besar dan ini akan membantu kebudayaan sekaligus mendorong ekonomi kreatif di hilir,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Ekonomi Kreatif RI Teuku Riefky Harsya menilai kehadiran Layar Digi hadir pada momentum yang tepat di tengah meningkatnya produksi film nasional.
Menurutnya, kebutuhan terhadap layar pemutaran semakin tinggi, sementara tidak semua kabupaten dan kota di Indonesia memiliki fasilitas bioskop.
“Kalau ini difokuskan, tidak akan lama ini akan menjadi jaringan bioskop salah satu terbesar di Indonesia,” ujar Riefky.
Sementara itu, Presiden Komisaris PT Teknologi Layar Digital Rahayu Saraswati Djojohadikusumo mengatakan bahwa Layar Digi dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem perfilman nasional dari hulu hingga hilir.
Ia menekankan bahwa industri film tidak hanya berperan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai kekuatan budaya atau soft power Indonesia yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.
Menurut Rahayu Saraswati, Layar Digi juga dirancang untuk menjangkau berbagai daerah di Indonesia sekaligus menghadirkan kembali film-film nasional yang menjadi bagian penting sejarah perfilman Indonesia agar dapat dinikmati generasi muda.
“Harapan kami adalah mendukung dan mendorong kreativitas anak bangsa. Ini juga menciptakan lapangan pekerjaan baru di sektor kreatif,” ujarnya.
Secara konsep, Layar Digi memanfaatkan ruang komersial strategis untuk menghadirkan pengalaman menonton dengan kapasitas yang lebih kecil dibandingkan bioskop konvensional. Meski demikian, fasilitas ini tetap mengedepankan kualitas proyeksi digital serta sistem tata suara yang memadai.
Inisiatif tersebut diharapkan dapat memperluas distribusi film nasional, membuka peluang pemutaran film lokal dan konten kreatif lainnya, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah.
Setelah tahap uji coba di Gading Serpong, jaringan Layar Digi direncanakan akan dikembangkan secara bertahap ke berbagai kabupaten dan kota di Indonesia.|Sumber Kementrian Kebudayaan RI

