BerandaBudayaFadli Zon dan Ote...

Fadli Zon dan Ote and Friend Meriahkan Konser Rakyat, Rindu Leo Kristi akhirnya Terobati

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID – Udara Sabtu malam (23/8) di Anjungan Sarinah Jalan MH Thamrin Jakarta terasa berbeda. Dari kejauhan, lampu panggung yang temaram berpadu dengan suara gitar akustik membuka sebuah konser penghormatan untuk Leo Kristi, musisi yang karyanya kerap disebut sebagai nyanyian rakyat dan suara kebebasan.

Para penonton duduk bersila di lantai, sebagian berdiri sambil ikut bersenandung. Ada yang berambut uban, ada pula anak-anak muda dengan ransel di punggung. Mereka datang dengan satu alasan: merayakan musik dan mengenang seorang legenda.

Menteri yang Turut Bernyanyi

Di tengah acara, Menteri Kebudayaan Fadli Zon tampak hadir tanpa protokol berlebihan. Ia menyimak dengan khidmat setiap bait yang dinyanyikan di panggung. Namun malam itu, ia tidak berhenti pada peran penonton.

Baca Juga :   Ibu, Penjaga Kenangan yang Tak Tergantikan: Drama Haru “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan” Siap Menguras Emosi

Ketika Ote Abadi, Nona van der Kley, dan grup Ote and Friends membawakan “Nyanyian Fajar”, Fadli ikut naik ke panggung. Tanpa ragu, ia menyanyi bersama, suaranya menyatu dengan harmoni. Momen itu seketika membuat suasana semakin intim.

“Dalam budaya Indonesia, musik adalah bahasa yang menyatukan. Ia mampu melampaui batas suku, agama, dan generasi,” ucap Fadli setelah turun dari panggung.

Musik sebagai Rekam Jejak Bangsa

Dalam perbincangan singkat usai konser, Fadli menjelaskan bahwa musik sejak lama menjadi bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Dari lagu rakyat di sawah dan pantai, hingga balada perjuangan di masa penjajahan, musik hadir sebagai pengikat kolektif.

“Leo Kristi menulis dengan kejujuran. Liriknya tidak selalu manis, tapi selalu membumi. Dari situ kita belajar, mencintai tanah air bukan sekadar slogan, melainkan rasa yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari,” katanya.

Baca Juga :   Aniwayang Menggebrak Museum Nasional, Wayang Naik Kelas Jadi Mesin Ekonomi Kreatif

Energi Leo Kristi yang Tak Padam

Lagu-lagu seperti “Nyanyian Malam” dan “Nyanyian Tanah Merdeka” kembali mengalun malam itu. Setiap bait seolah membuka kembali lembaran lama: masa ketika lagu dinyanyikan di jalanan, dalam forum-forum kecil, atau di kampus-kampus, sebagai simbol keberanian menyuarakan kejujuran.

Bagi para penggemarnya, konser ini bukan hanya nostalgia. Ia adalah peneguhan bahwa karya Leo Kristi tetap relevan, bahkan di era yang serba digital.

Sebuah Malam yang Menyatu

Konser rakyat di Sarinah itu akhirnya lebih dari sekadar pertunjukan musik. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, tempat seorang menteri, musisi, dan rakyat biasa berdiri sejajar, bernyanyi dalam satu suara.

Malam itu, musik kembali membuktikan dirinya: ia bukan hanya bunyi, melinkan bahasa persatuan bangsa.Malam itu, musik kembali membuktikan dirinya: ia bukan hanya bunyi, melainkan bahasa persatuan bangsa.| Foto : Ote Abadi

Baca Juga :   David Bayu Rilis Album Kedua “Segalanya Itu Kamu”, Perjalanan Emosional yang Penuh Kejujuran

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Royalti Musik dan Keadilan Pencipta: Harapan Baru di Era Tata Kelola LMKN

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Tata kelola royalti dalam industri musik tidak semata berbicara...

GSW Pantura Jadi Proyek Strategis Nasional, Pemerintah Siapkan Otorita Khusus

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Proyek Giant Sea Wall (GSW) di kawasan Pantai Utara (Pantura)...

Polemik LMKN Kembali Mengemuka, LMK Klaim Sistem Royalti Rugikan Pencipta Lagu

JAKARTA,TERMINALNEWS ID— Polemik yang menyeret nama Lembaga Manajemen Kolektif Nasional kembali...

Arca “Mbah Bhelet” Dipindahkan, Fadli Zon Tekankan Penguatan Nilai Budaya Borobudur

MAGELANG,TERMINALNEWS.ID — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah...

- A word from our sponsors -

spot_img