JAKARTA,TERMINALNEWS.ID – Azan maghrib baru saja usai berkumandang ketika satu per satu tamu memadati ruang tengah rumah mendiang Franky Sahilatua, Rabu malam (4/2). Di rumah yang dulu kerap dipenuhi petikan gitar dan diskusi panjang tentang musik itu, kini berkumpul lebih dari 25 pencipta lagu dalam acara buka puasa bersama Perkumpulan Penulis Tembang Indonesia (PEPTI).
Namun malam itu bukan hanya tentang kurma dan hidangan berbuka. Ada kegelisahan yang ikut duduk di antara mereka tentang royalti yang belum juga cair sejak Januari 2024.
Di sudut ruangan, Antiek Sahilatua berdiri tenang. Sebagai tuan rumah sekaligus istri almarhum Franky, ia menyampaikan suara yang pelan, tetapi menggetarkan.
“Ini bukan meminta-minta. Ini hak yang memang sudah seharusnya diterima,” kata Antiek.
Rumah yang Penuh Kenangan
Bagi Antiek, malam itu terasa emosional. Rumah tersebut bukan sekadar bangunan, melainkan saksi perjalanan panjang perjuangan hak cipta yang dulu juga diperjuangkan suaminya.
Ia mengenang bagaimana Franky begitu mencintai dunia musik dan para pencipta lagu. Diskusi tentang lirik, melodi, hingga masa depan musisi Indonesia kerap mengisi hari-hari mereka.
“Royalti itu bukan hanya soal angka. Itu penghargaan atas karya yang sudah dinikmati banyak orang,” ujarnya.
Suara Antiek sempat bergetar ketika berbicara tentang keluarga pencipta lagu yang telah berpulang.
“Kalau pencipta lagu sudah tiada, bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkan? Royalti itu bagian dari hak ekonomi yang menopang kehidupan,” katanya.
Menanti Kepastian
Ketua PEPTI, Brigjen TNI (Pur) Amrizal, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengantongi Surat Keputusan dari Kementerian Hukum RI. Namun izin operasional lembaga manajemen kolektif (LMK) yang menjadi syarat distribusi royalti belum terbit.
Akibatnya, lebih dari 200 anggota PEPTI belum menerima hak mereka dalam dua periode terakhir.
Pengurus mengaku telah dua kali melayangkan surat permohonan audiensi kepada pihak terkait. Hingga kini, belum ada jawaban resmi. Langkah hukum disebut sebagai opsi terakhir jika dialog tidak menemukan titik terang.
Doa di Bulan Ramadan
Di bulan yang identik dengan pengampunan dan harapan ini, Antiek memilih menyuarakan ajakan sederhana: duduk bersama.
“Mari kita musyawarah. Dengarkan suara hati para pencipta lagu,” ucapnya.
Malam itu, di antara doa dan hidangan berbuka, harapan mengalir pelan. Bahwa karya-karya yang pernah mengisi ruang-ruang hidup masyarakat tidak dilupakan begitu saja. Bahwa hak para pencipta dihormati, sebagaimana karya mereka pernah dihargai.
Bagi Antiek dan para pencipta lagu yang hadir, perjuangan ini bukan sekadar polemik administratif. Ini tentang martabat karya, tentang keluarga yang menunggu, dan tentang keadilan yang diharapkan tiba—mungkin sebelum Lebaran mengetuk pintu.

