OLEH: Nabil M.Salim
19 APRIL1930 sebuah organisasi bola lahir di Yogyakarta. 100 tahun kemudian, PSSI masih jadi rumah bagi jutaan mimpi anak bangsa. Ini kisah jatuh, bangun, dan harapan Garuda.
Ruangan itu pengap. Di Yogyakarta tahun 1930, 7 orang duduk melingkar. Agenda mereka sederhana: bikin tim bola sendiri.
Mereka muak. Di zaman Hindia Belanda, pribumi dilarang gabung NIVB, federasi bola milik Belanda. Dari rasa kesal itu lahirlah Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia.
Hari ini, 95 tahun berselang, kita menyebutnya PSSI. Dan tahun 2030 nanti, usianya genap 100 tahun. Seabad perjalanan yang isinya air mata, tawuran, piala, skandal, dan satu mimpi yang tidak pernah mati: melihat Garuda terbang di Piala Dunia.
BAB 1: LAHIR DARI PERLAWANAN [1930 – 1945]
PSSI bukan lahir karena cinta bola saja. Dia lahir karena politik.
Tanggal 19 April 1930, Soeratin Sosrosoegondo ditunjuk jadi ketua pertama. Tujuh klub jadi pendiri: VIJ, BIVB, PSM, VVB, MVB, IVBM, SIVB. Sekarang kita kenal mereka sebagai Persija, Persib, PSIM, Persis, PSM Madiun, PPSM, Persebaya.
Kompetisi pertama “Perserikatan” digelar 1931. Bola jadi alat pemersatu antardaerah, setahun setelah Sumpah Pemuda.
Puncaknya: 1938. Usia PSSI baru 8 tahun, tapi kita sudah tampil di Piala Dunia di Prancis. Atas nama Hindia Belanda. Sampai sekarang, itu satu-satunya wakil Asia Tenggara yang pernah ke sana.
BAB 2: ERA KEEMASAN GARUDA [1945 – 1970]
Merdeka. PSSI langsung gabung FIFA tahun 1952. Setahun kemudian jadi salah satu pendiri AFC di 1954.
Ini masa kita disegani Asia.
– Asian Games 1958 Tokyo: Perak
– Asian Games 1962 Jakarta: Perak
– SEA Games 1956: Emas
Lapangannya tanah. Sepatunya minjem. Tapi semangatnya tidak pernah tambalan.
BAB 3: ZAMAN DUALISME DAN LUKA [1979 – 2016]
1979: Lahir Galatama untuk klub profesional. Sementara Perserikatan tetap jalan untuk klub daerah. Dua rumah, satu negara.
1994: Akhirnya dilebur jadi Liga Indonesia. Harusnya bersatu, malah jadi awal konflik baru.
Titik terendah: 2011-2016. Ada ISL, ada LPI. Saling klaim. FIFA tidak tahan dan membekukan PSSI pada 13 Mei 2016. Stadion sepi. Timnas gantung sepatu. Suporter pecah.
Itu tamparan paling keras. Tapi juga jadi titik balik.
BAB 4: BANGKIT DAN PROFESIONAL [2017 – 2025]
2017: Nama ganti jadi Liga 1. Dipegang PT LIB. Aturannya lebih ketat, klub harus profesional.
2023: Erick Thohir terpilih jadi Ketum PSSI. Fokusnya beda: benahi dari akar. Transparansi, wasit, dan pembinaan usia muda.
Hasilnya mulai ada:
1. Piala Dunia U-17 2023: Kita jadi tuan rumah
2. Piala Dunia U-17 2025: Lolos lagi ke Qatar
3. Timnas Senior: Tembus ronde 3 Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia
Di HUT ke-95 PSSI April 2025, Erick bilang: “1938 kita sudah ke Piala Dunia. Sekarang saatnya cetak sejarah baru.”
BAB 5: MENUJU SEABAD [2025 – 2030]
Mulai musim 2025-2026, struktur liga kita rapi:
1. Liga Super: 18 klub
2. Kejuaraan: 20 klub, 2 grup
3. Liga Nusantara: 24 klub
4. Liga 4: 38 liga provinsi
Ada juga Liga Putri, Elite Pro Academy, Piala Soeratin. Artinya bibit-bibit baru terus dipupuk.
Target 2030: Usia 100 tahun PSSI dirayakan bukan dengan seremonial. Tapi dengan prestasi.
100 tahun. Dari “sepak raga” yang ditolak Belanda, sampai punya stadion berstandar FIFA. Dari dibekukan, sampai jadi tuan rumah dunia.
Sepak bola Indonesia itu cermin kita. Kadang ribut, kadang kompak. Kadang jatuh, tapi selalu mau bangkit lagi.
Karena di negeri ini, bola bukan sekadar olahraga. Bola adalah cara kita bilang: “Kita Indonesia”.
Dan mimpinya belum selesai.
*Nabil M. Salim, Pengamat sepakbola nasional

Editor: Tommy R.Arief

