JAKARTA,TERMINALNEWS.ID – | Tidak semua musisi lahir dari panggung besar. Ada yang datang dari tempat sederhana — bahkan dari kios batu mulia. Seperti kisah Andi dan Rudi, dua sahabat yang menjadi satu-satunya personel tersisa dari band 7Dunia, dan kini kembali menegaskan eksistensinya lewat single terbaru, “Ku Harus Pergi.”
Uniknya, peluncuran lagu ini bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2025. Sebuah momen yang mereka anggap bukan kebetulan, melainkan simbol perjuangan dan semangat pantang menyerah dalam berkarya.
“Kami juga berjuang seperti para pemuda dulu. Bedanya, perjuangan kami di dunia musik,” kata Andi, sang vokalis, sambil tertawa saat ditemui di Rawamangun, Jakarta.
Musisi Sekaligus Pengrajin Batu Mulia
Andi dan Rudi bukan hanya musisi. Di luar panggung, keduanya dikenal sebagai pengrajin batu mulia dan permata. Mereka bahkan memiliki toko bernama 7Dunia Gems di Mal Seasons City dan Rawa Bening, Jakarta.
Keduanya mulai terjun ke bisnis itu saat tren “demam batu akik” melanda Indonesia pada 2015.
“Awalnya cuma ikut-ikutan, tapi lama-lama jadi cinta. Sama kayak musik — butuh kesabaran, detail, dan rasa,” ujar Rudi.
Mereka percaya, baik musik maupun batu mulia sama-sama punya energi yang bisa menyembuhkan hati.
“Kalau batu bisa memancarkan cahaya, musik bisa memancarkan perasaan,” tambah Andi.
“Ku Harus Pergi”: Cinta yang Ikhlas Melepaskan
Single terbaru mereka, Ku Harus Pergi, bercerita tentang cinta yang memilih mundur demi kebahagiaan orang lain.
Dengan aransemen modern dan sentuhan distorsi halus khas 7Dunia, lagu ini menjadi refleksi kedewasaan dalam mencintai.
“Cinta sejati itu bukan tentang memiliki. Kadang, justru harus berani pergi,” ungkap Rudi.
Lagu ini digarap bersama Andin, mantan personel band Vena dan additional player The Fly, yang memberi sentuhan musik lebih matang.
Video Klip di Kota Tua, dengan Model 150 Kg yang Jadi Ikon
Bukan 7Dunia namanya kalau tak punya ide unik. Dalam video klip Ku Harus Pergi, mereka kembali menghadirkan sosok Putra GreenLake, mahasiswa UNJ berbobot 150 kg yang selalu jadi model di setiap video musik mereka.
Syuting dilakukan di gedung tua peninggalan Belanda di Kota Tua, Jakarta Utara, menciptakan nuansa klasik dan dramatis yang memikat secara visual.
Bangkit dari Malaysia, Kembali ke Tanah Air
Sebelum merilis lagu ini, 7Dunia sempat membuat gebrakan dengan debut di Malaysia lewat label Life Records pada 2019. Langkah berani itu membuat mereka dikenal di negeri jiran sebelum kembali memperkuat posisi di Indonesia.
Kini, lewat label True Friends, 7Dunia siap memulai babak baru. Mereka akan aktif di media sosial, mengadakan live TikTok tiap malam, tampil di radio, hingga showcase di warkop-warkop seluruh Indonesia.
“Kami ingin musik kami dekat dengan rakyat. Karena kami juga lahir dari rakyat,” tutur Andi.
“7Dunia Itu Anomali,” Kata Konsultan Musik
Menurut Bois Famous Maker, konsultan musik yang mendampingi mereka, perjalanan 7Dunia tergolong luar biasa.
“Bayangin, band indie dari Jakarta bisa debut di label besar Malaysia. Itu anomali yang keren. Perjuangan mereka luar biasa,” ujarnya.
Musik, Perjuangan, dan Semangat Pemuda
Bagi 7Dunia, momen Sumpah Pemuda bukan sekadar tanggal bersejarah. Tapi juga simbol dari tekad mereka untuk terus berkarya dan tidak menyerah pada keadaan.
“Selama masih ada semangat, kami akan terus berdiri di rimba musik Indonesia,” tutup Andi penuh keyakinan.


