TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – National Basketball Association (NBA) semakin serius merealisasikan rencana ekspansi ke Eropa dengan meluncurkan kompetisi bertajuk NBA Europe pada Oktober 2027.
Meski masih membuka peluang kerja sama dengan EuroLeague, NBA dikabarkan siap menjalankan proyek tersebut secara mandiri jika kesepakatan dengan kompetisi basket elite Eropa itu tidak tercapai.
Keseriusan NBA terlihat setelah muncul laporan bahwa dewan EuroLeague menolak tawaran senilai 581 juta dolar AS atau sekitar Rp9,6 triliun dari NBA untuk membeli sekaligus menggabungkan kompetisi tersebut.
Laporan itu disampaikan jurnalis olahraga Amerika Serikat, Kerrie Jacobs-Bryant. Penolakan tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam rencana NBA membangun kompetisi basket baru di Eropa.
Komisioner NBA Adam Silver sebelumnya masih menunjukkan optimisme terhadap proses negosiasi. Namun, sejumlah petinggi liga tampaknya telah menyiapkan langkah alternatif agar proyek NBA Europe tetap berjalan, terlepas dari tercapai atau tidaknya kesepakatan dengan EuroLeague.
Jika pembicaraan berakhir tanpa kesepakatan, NBA diperkirakan akan memulai kompetisi dengan format turnamen atau liga terbatas. Format tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi liga penuh dalam beberapa tahun berikutnya.
Rencana ekspansi internasional melalui pembentukan liga baru di Eropa pertama kali diumumkan Wakil Komisioner NBA Mark Tatum pada Oktober 2025. Saat itu, Tatum menyampaikan bahwa NBA menargetkan peluncuran proyek tersebut pada paruh kedua 2027.
Larry Tanenbaum Bidik Waralaba NBA Europe
Salah satu nama yang mencuat adalah miliarder Nikesh Arora. Ia dikaitkan dengan rencana pembentukan klub berbasis di London yang berpotensi bermarkas di arena baru berkapasitas 25.000 penonton, London Colosseum.
Namun, perkembangan paling menarik datang dari Larry Tanenbaum, mantan pemilik saham minoritas Toronto Raptors. Tanenbaum bahkan dikabarkan telah mengajukan penawaran senilai 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp18,1 triliun untuk mendapatkan waralaba NBA Europe di London.
Tawaran tersebut muncul setelah Tanenbaum menjual 25 persen kepemilikannya di Maple Leaf Sports & Entertainment (MLSE) kepada Rogers Communications senilai 3,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp56,2 triliun.
Tanenbaum bukan sosok baru dalam industri olahraga Amerika Utara. Ia merupakan salah satu figur penting di balik Toronto Raptors yang berhasil menjuarai NBA pada 2019.
Persaingan mendapatkan klub di London diperkirakan berlangsung ketat. Tanenbaum harus bersaing dengan sejumlah kelompok investor yang dikaitkan dengan Daniel Levy, keluarga Lewis, Todd Boehly, serta Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi.
Sementara itu, Paris Saint-Germain (PSG) disebut-sebut berada di posisi terdepan untuk mendapatkan waralaba yang berbasis di Paris.
Tanenbaum, 81 tahun, baru-baru ini juga mengakhiri kiprahnya sebagai Ketua Dewan Gubernur NBA setelah hampir satu dekade menduduki jabatan tersebut.
Jadi Pasar Termahal
Masuknya Tanenbaum diperkirakan akan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan NBA Europe. Berdasarkan laporan Sports Business Journal, London dan Paris diprediksi menjadi dua pasar paling bernilai dalam proyek ekspansi tersebut.
Nilai masing-masing waralaba di kedua kota itu bahkan diperkirakan dapat melampaui 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp18,1 triliun.
Sementara itu, klub-klub di kota Eropa lainnya diperkirakan memiliki valuasi antara 500 juta hingga 1 miliar dolar AS, setara dengan sekitar Rp9,1 triliun hingga Rp18,1 triliun.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dibidik NBA melalui ekspansi ke Eropa. Selain memperluas jangkauan pasar internasional, kehadiran NBA Europe juga berpotensi membuka peluang investasi baru di industri olahraga, hiburan, dan bisnis komersial.
Dengan target peluncuran pada Oktober 2027, persaingan memperebutkan waralaba NBA Europe diperkirakan akan semakin menarik dalam beberapa waktu ke depan.

