BerandaNewsNasionalTernyata Bukan 40, Melainkan...

Ternyata Bukan 40, Melainkan 10 Makam Tentara Jerman di Megamendung, Kondisinya Terawat Baik

TERMINALNEWS.ID, BOGOR – Keberadaan makam tentara Jerman di Kampung Arca Domas, Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, menyimpan kisah sejarah yang menarik.

Berada di kaki Gunung Pangrango, kompleks pemakaman yang telah berusia puluhan tahun itu hingga kini masih terawat dengan baik.

Selama ini, tidak sedikit masyarakat yang mengira terdapat 40 tentara Nazi Jerman yang dimakamkan di lokasi tersebut. Namun, faktanya hanya ada 10 makam, yang seluruhnya merupakan tentara Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine).

Meski dikelilingi pepohonan besar yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun, suasana kompleks pemakaman itu kini tidak lagi terkesan angker seperti pada era 1980-an hingga awal 2000-an. Bahkan, tak jauh dari lokasi makam kini berdiri sebuah kafe atau rumah makan yang menjadi tempat singgah wisatawan yang berkunjung.

Aep Gepeng, salah seorang juru rawat kompleks pemakaman tersebut, menjelaskan bahwa kesalahpahaman mengenai jumlah makam sudah lama berkembang di tengah masyarakat.

fc0d9671 8097 4899 a41b a0fd514fb803
Ternyata Bukan 40, Melainkan 10 Makam Tentara Jerman di Megamendung, Kondisinya Terawat Baik (Foto Jef Sukapura)

“Yang sebenarnya, jumlah tentara Jerman yang dimakamkan di Kampung Arca Domas ini hanya 10 orang. Semuanya merupakan anggota Angkatan Laut Jerman,” kata Aep saat ditemui TERMINALNEWS.ID di lokasi.

Baca Juga :   Kelompok Kerja PWI Jakarta Selatan Gelar Santunan untuk Anak Yatim di Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1446 H

Menurut Aep, kesepuluh jenazah tersebut merupakan awak kapal selam U-Boat milik Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) yang gugur dalam rangkaian peristiwa Perang Dunia II sekitar 1945.

Ia kemudian menceritakan bahwa kawasan Kampung Arca Domas dan sekitarnya pada awal abad ke-20 merupakan hamparan perkebunan teh seluas ratusan hektare. Perkebunan tersebut dimiliki dua bersaudara asal Jerman, Emil dan Theodor Hellferich.

“Sejarah perkebunan teh ini sudah ada sebelum Perang Dunia I. Orang tua Emil dan Theodor merupakan pihak yang pertama kali membangun perkebunan teh Arca Domas,” ungkapnya.

Keberadaan sejarah keluarga tersebut juga ditandai dengan sebuah monumen peringatan untuk menghormati para prajurit Jerman, termasuk Admiral Graf Spee, yang berkaitan dengan peristiwa Perang Dunia I pada 1914.

Aep menuturkan, ketika Perang Dunia II pecah dan Jepang menginvasi Indonesia, sejumlah pelaut Jerman, termasuk awak kapal selam, gugur di perairan Nusantara. Sebagian dari mereka kemudian dimakamkan di kawasan Kampung Arca Domas.

Baca Juga :   HPN 2026: Dewan Pers Gelar Sosialisasi Pendataan Media di Serang

Sementara itu, Anwar, juru rawat lainnya, mengatakan tugas merawat kesepuluh makam tersebut merupakan pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarganya.

Ia bersama Aep melanjutkan tugas kedua orang tuanya, Nyai dan ayahnya, yang sudah tidak aktif lagi menjadi juru kunci karena faktor usia.

“Keluarga kami sudah turun-temurun merawat 10 makam tentara Jerman ini. Generasi pertama yang menjalankan tugas tersebut adalah buyut saya, setelah Perang Dunia II berakhir,” tutur Anwar.

Anwar mengaku bersyukur karena perawatan kompleks makam, termasuk honor bulanan bagi dirinya dan Aep, mendapat dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Jakarta.

Menurutnya, pihak kedutaan selama ini memberikan perhatian besar terhadap keberadaan makam tersebut. Bahkan, setiap November secara rutin digelar upacara penghormatan di kompleks pemakaman untuk mengenang para prajurit Jerman yang dimakamkan di sana.

Baca Juga :   Legislator Yuke Yurike: Rusun Sebagai Transit Sementara

“Alhamdulillah, Kedutaan Besar Jerman banyak membantu dan memberikan perhatian kepada kami. Setiap November selalu digelar upacara untuk menghormati sepuluh tentara yang dimakamkan di sini. Bagi bangsa Jerman, mereka merupakan sosok yang dihormati sebagai pahlawan,” pungkasnya.

Monumen Bersejarah dari 1926

Sebagai penanda sejarah, kesepuluh makam tentara Jerman tersebut memiliki batu nisan berbentuk salib. Selain itu, di kawasan pemakaman juga terdapat sebuah monumen yang dibangun pada 1926 oleh kakak beradik pengusaha perkebunan teh di Megamendung.

Monumen tersebut didirikan untuk mengenang para prajurit Jerman dari Armada Asia Timur yang gugur dalam Perang Dunia I pada 1914.

Keberadaan makam dan monumen bersejarah ini menjadi pengingat bahwa kawasan Megamendung tidak hanya menyimpan keindahan alam di kaki Gunung Pangrango, tetapi juga memiliki jejak sejarah hubungan Indonesia dan Jerman yang telah berlangsung sejak awal abad ke-20. (Jefri Sukapura)

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Bangunan Diduga Langgar Izin Marak di Ciampea, Tiang Beton di Dasar Sungai Picu Kekhawatiran Banjir

TERMINALNEWS.ID, BOGOR – Maraknya bangunan yang diduga tidak berizin dan bangunan...

Gus Kikin: Jangan Terpancing Provokasi, Jaga Sukoharjo Tetap Damai

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH...

Ferry Juliantono Ajak Elemen Umat Islam Bersatu Perkuat Ekonomi Umat melalui Koperasi

TERMINALNEWS.Id, JAKARTA – Menteri Koperasi (Menkop) sekaligus Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat...

Dua Lensa Bercerita Hadirkan Dunia Baru Laut Bercerita Lewat Fotografi dan Instalasi

TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Kisah Laut Bercerita karya Leila S. Chudori terus...

- A word from our sponsors -