TERMINALNEWS.ID, GUNUNGKIDUL – Upaya memperkuat ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan kemandirian peternak rakyat terus dilakukan melalui kolaborasi antara dunia usaha dan koperasi. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Koperasi Produsen Usaha Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER) meresmikan kerja sama budidaya ayam broiler di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kerja sama tersebut tidak sekadar berorientasi pada peningkatan produksi. Kemitraan ini dirancang untuk membangun ekosistem usaha peternakan yang saling mendukung, mulai dari penyediaan Days Old Chick (DOC), pendampingan teknis budidaya, hingga penyerapan hasil produksi.
Direktur JAPFA Rachmat Indrajaya mengatakan, kemitraan dengan peternak rakyat merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk membangun usaha peternakan yang berkelanjutan.

Menurut dia, peternak memperoleh akses terhadap DOC, pendampingan teknis, serta dukungan pemasaran. Di sisi lain, JAPFA juga menyerap hasil produksi melalui fasilitas Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) yang dimiliki perusahaan.
“Kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat kedaulatan pangan sekaligus mendorong pemberdayaan dan keberlanjutan usaha peternak rakyat. Kerja sama ini telah mencapai milestone satu juta ekor broiler,” ujar Rachmat.
Bangun Kemitraan dengan Pembagian Peran yang Jelas
Dalam pelaksanaannya, kemitraan tersebut dibangun berdasarkan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan pembagian tanggung jawab yang jelas.
Peternak bertanggung jawab menyediakan infrastruktur kandang dan tenaga kerja. JAPFA memastikan ketersediaan DOC dengan standar kualitas yang ditetapkan serta memberikan pendampingan teknis selama proses budidaya.
Sementara itu, Koperasi LPER mengambil peran sebagai koordinator komunitas peternak sekaligus penggerak usaha bersama, terutama dalam proses hilirisasi hasil peternakan.

Model kerja sama tersebut diharapkan mampu menciptakan hubungan usaha yang lebih sehat karena setiap pihak memiliki peran dan tanggung jawab yang terukur.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menyambut positif kemitraan tersebut. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, swasta, koperasi, dan peternak dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Kami sangat mengapresiasi sinergi antara swasta dan koperasi ini dalam memperkuat fondasi ketahanan pangan di wilayah kami. Menjadikan peternak rakyat sebagai penyedia pangan yang tangguh adalah kunci,” katanya.
Endah berharap dukungan berupa bimbingan teknis dan akses pasar dapat membuat usaha peternak lebih stabil. Dengan demikian, skala usaha dapat terus berkembang sekaligus memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat.
Industri dan Peternak Harus Tumbuh Bersama
Dukungan terhadap model kemitraan tersebut juga datang dari Kementerian Pertanian. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr. drh. Agung Suganda, M.Si, mengatakan pola kerja sama antara industri dan peternak rakyat perlu terus diperkuat.
Ia menyebut kerja sama tersebut sejalan dengan implementasi Permentan Nomor 10 Tahun 2024 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.
“Industri dan peternak rakyat harus tumbuh bersama. Ketika peternak mendapat akses sarana produksi, pendampingan, dan kepastian pasar, produktivitas meningkat dan usaha menjadi lebih kuat,” ujar Agung.

Menurutnya, keberhasilan kemitraan tidak hanya diukur dari peningkatan produksi ayam. Lebih jauh, pola tersebut diharapkan mampu membentuk ekosistem pangan yang kuat, menjaga kesinambungan pasokan protein hewani, serta meningkatkan kesejahteraan peternak.
Ditargetkan Bisa Direplikasi
Ketua Koperasi LPER H. Mulyadi Atma mengapresiasi dukungan Ditjen PKH dan JAPFA dalam terwujudnya kerja sama tersebut. Ia berharap kemitraan dapat berlangsung secara berkelanjutan dan dikembangkan ke wilayah lain.
“Harapan kami kerja sama ini dapat berjalan secara berkelanjutan dan direplikasi di seluruh wilayah keanggotaan LPER yang tersebar di 17 provinsi,” katanya.
Mulyadi juga meminta anggota LPER yang terlibat dalam kemitraan agar menjalankan tanggung jawab dengan baik dan menjaga kepercayaan yang telah diberikan.
Selain peningkatan produksi, kerja sama ini turut menempatkan kesejahteraan peternak sebagai salah satu fokus utama. Sistem insentif yang berbasis kinerja diharapkan mendorong peternak meningkatkan efisiensi dan produktivitas tanpa mengabaikan penerapan standar budidaya sesuai ketentuan.
Pengelolaan risiko secara bersama juga menjadi bagian dari upaya menciptakan iklim usaha yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Rachmat berharap penguatan kemitraan tersebut pada akhirnya mampu menempatkan peternak rakyat bukan hanya sebagai pelaku produksi, tetapi sebagai bagian penting dari rantai pasok pangan nasional.
“Kami berharap penguatan kerja sama ini menjadi langkah nyata dalam mendukung kedaulatan pangan dan menjadikan peternak rakyat sebagai rekanan pangan yang mandiri secara ekonomi,” tutupnya.

