TERMINALNEWS.ID, JAKARTA — Keterbatasan sumber energi fosil dan tuntutan untuk menekan emisi karbon mendorong Indonesia mencari alternatif energi yang aman, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Energi nuklir pun mulai dipandang sebagai salah satu opsi strategis untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan.
Namun, pengembangan energi nuklir bukan perkara mudah. Salah satu tantangan utamanya adalah membangun kepercayaan publik terhadap aspek keselamatan dan dampak lingkungan dari teknologi tersebut.
Hal itu menjadi salah satu alasan Global Transport, Training, and Trading Indonesia (GTI) menggandeng Badan Kejuruan Teknik Nuklir Persatuan Insinyur Indonesia (BKTN-PII) menggelar roadshow nasional bertajuk “Berani Bicara Nuklir: Fakta, Manfaat, Risiko, dan Masa Depan PLTN Indonesia”.
Dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat (4/9/2026), GTI menyebut kegiatan tersebut menjadi wadah untuk mengajak masyarakat memahami energi nuklir secara lebih utuh berdasarkan fakta ilmiah, bukan semata-mata persepsi maupun informasi yang belum terverifikasi.
Roadshow tersebut telah digelar di dua perguruan tinggi, yakni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 22 Agustus 2026 dan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 31 Agustus 2026.
Nuklir dalam Kebijakan Energi Nasional
Pembahasan mengenai energi nuklir juga tidak terlepas dari arah kebijakan energi Indonesia. Dalam kegiatan tersebut disampaikan bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional menjadi salah satu landasan yang menandai babak baru dalam pembangunan sektor energi nasional.

Seiring meningkatnya kebutuhan listrik, komitmen Indonesia mengurangi emisi karbon, serta target Indonesia Emas 2045, energi nuklir dinilai menjadi salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan dalam bauran energi nasional.
Meski demikian, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tidak hanya membutuhkan kesiapan teknologi. Kesiapan masyarakat, sumber daya manusia, industri nasional, regulasi, serta komunikasi publik yang transparan dan berbasis ilmu pengetahuan juga menjadi faktor penting.
Karena itu, roadshow tersebut dirancang sebagai forum dialog yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, pemerintah, regulator, industri, peneliti, mahasiswa, media massa hingga masyarakat.
Forum tersebut diharapkan dapat membangun pemahaman yang lebih objektif mengenai peluang, tantangan, sekaligus kesiapan Indonesia dalam mengembangkan energi nuklir secara aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Bahas Teknologi hingga Kesiapan SDM
Diskusi interaktif yang berlangsung di dua kampus tersebut membahas sejumlah aspek penting dalam pengembangan energi nuklir. Topik yang dibahas antara lain perkembangan teknologi reaktor modern, keselamatan dan keamanan nuklir, kesiapan regulasi, komunikasi publik, pengembangan sumber daya manusia, hingga peluang keterlibatan industri nasional dalam pembangunan PLTN.
Sejumlah narasumber turut memberikan pandangan dalam rangkaian kegiatan tersebut. Mereka antara lain Dr. Eng. Indarta Kuncoro Aji, Direktur PT Kakiatna Enjiniring sekaligus alumni ITB; Shirley Oroh, Komisaris Utama GTI; Prof. Dr. Ir. Faridah, S.T., M.Sc., IPU, ASEAN Eng., Ketua Departemen TNTF UGM; Prof. Dr. Zaki Su`ud, M.Eng., Guru Besar ITB; Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, M.Eng., IPM, Anggota Dewan Energi Nasional; serta Dr. Ir. Didik Fauzi Dakhlan, S.T., M.Sc., Executive Vice President of Technology and Engineering PT PLN (Persero).
Diskusi tersebut dimoderatori Dr. Netty Herawati, M.Si. dan Dr. Ir. Jupiter Sitorus Pane, M.Sc.
Melalui roadshow ini, GTI dan BKTN-PII mendorong agar pembicaraan mengenai nuklir di Indonesia tidak lagi hanya berfokus pada kekhawatiran, tetapi juga melihat fakta ilmiah, manfaat, risiko, serta kesiapan yang diperlukan untuk menjadikan energi nuklir sebagai bagian dari solusi kebutuhan energi nasional di masa mendatang.

