OLEH: Nabil M.Salim
Tahun 1956, dunia terbelalak. Indonesia, negara yang baru 11 tahun merdeka, menahan imbang Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne. Di depan ada “Si Kancil” Andi Ramang yang bikin Lev Yashin keringatan. Di belakang ada “Tembok Besar” Tan Ling Djie yang nggak bisa dilewatin.
70 tahun kemudian, kita masih mencari mereka. Ke mana perginya Si Kancil dan Tembok Besar itu?
DOELOE – KETIKA WARUNG KOPI MELAHIRKAN LEGENDA
Cerita dimulai dari Barru. Andi Ramang jualan kopi, ditemukan jenderal Andi Mattalatta, lalu diselamatkan posisinya oleh Maladi dari bek jadi striker. Hasilnya: 188 gol buat PSM, 19 gol di tur Asia 1954.
Di waktu yang sama, dari Surabaya muncul Tan Ling Djie. Tinggi 180cm, tenang, disiplin. Dia kapten. Dia tembok.
Mereka beda etnis, beda gaya, tapi 1 tujuan: Merah Putih. Di klub etnis seperti UMS Bandung dan PSM Makassar, pembinaan jalan. Orang tua bangga anaknya main bola. Stadion penuh. Timnas disegani Asia.
FIFA sampai bikin dokumenter: “Ramang – The Man, The Myth, The Legend”. Nama Indonesia harum.
TITIK PATAH – KETIKA TEMBOK ITU RUNTU
Lalu datang 1965. Politik memanas. Kebijakan membatasi aktivitas warga Tionghoa. Klub-klub etnis seperti UMS, SVB perlahan mati. Jalur pembinaan putus.
Jurnalis senior Sumohadi Marsis mencatat: “banyak orang tua etnis Tionghoa lebih memilih anaknya fokus di dunia bisnis ketimbang sepak bola.” Sepakbola dianggap rawan rusuh dan rasis. Lebih aman dagang.
Pemain terakhir era itu: Endang Witarsa dan Tek Fong. Setelah mereka, hening. 46 tahun Persib baru pakai pemain Tionghoa lagi lewat Nova Arianto di 2007.
Tan Liong Houw pernah berpesan pedas: “Jangan tanyakan nasionalisme orang Tionghoa. Kami siap mati di lapangan demi Indonesia.” Tapi lapangan itu makin lama makin sepi dari mereka.
KINI – MENCARI DUET YANG HILANG
Reformasi 1998 membuka pintu. Muncul nama: Nova Arianto, Kim Kurniawan, Sutanto Tan. Tapi belum ada lagi yang seduet Ramang-Tan Ling Djie. Belum ada lagi yang bikin dunia takjub bareng-bareng.
Masalahnya bukan bakat. Masalahnya ekosistem. SSB masih sedikit, stigma masih ada, dan “jenderal” seperti Mattalatta yang berani jemput bakat dari warung kopi sudah jarang.
EPILOG
Dulu kita punya paket komplit: Si Kancil menusuk, Tembok menjaga.
Sekarang kita punya talenta, tapi sering jalan sendiri-sendiri.
Pertanyaannya bukan “kenapa mereka menghilang”.
Pertanyaannya: “Kapan kita berani membangun lagi pabriknya?”
Karena kalau Ramang dan Tan Ling Djie bisa lahir di era susah,
berarti Ramang dan Tan Ling Djie yang baru… pasti ada.
Tinggal kita mau cari atau tidak.
Editor: Tommy R.Arief

