TERMINALNEWS.ID, WASHINGTON – Sejumlah suporter Skotlandia mengaku kecewa dan patah hati setelah perubahan mendadak pada status izin perjalanan mereka ke Amerika Serikat mengancam keberangkatan menuju Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Utara.
Turnamen sepak bola terbesar di dunia itu akan dimulai kurang dari sepekan lagi. Tuan rumah bersama, Mexico, akan menghadapi South Africa di Stadion Azteca pada 11 Juni. Sebanyak 104 pertandingan akan berlangsung hingga partai final di MetLife Stadium pada 19 Juli 2026.
Namun, persiapan menuju turnamen justru diwarnai masalah administrasi perjalanan yang menimpa puluhan pendukung Skotlandia.
Warga Inggris yang ingin memasuki Amerika Serikat tanpa visa untuk kunjungan hingga 90 hari diwajibkan mengajukan izin melalui sistem Electronic System for Travel Authorization (ESTA).
Sejumlah pendukung Skotlandia mengungkapkan bahwa status ESTA mereka yang sebelumnya telah disetujui tiba-tiba berubah menjadi “travel not authorized” atau tidak diizinkan melakukan perjalanan.
Perubahan tersebut terjadi hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai, membuat banyak suporter terancam kehilangan biaya perjalanan yang telah mereka keluarkan.
Salah satu yang terdampak adalah Scott Braid (43), yang berencana terbang ke Boston pada 12 Juni bersama istri dan dua anaknya.
Scott mengaku telah memesan perjalanan yang ia sebut sebagai “kesempatan sekali seumur hidup” setelah menerima persetujuan ESTA. Namun, email yang diterimanya pada pekan ini mengubah segalanya.
“Tiba-tiba pada hari Selasa saya menerima email yang menyatakan ada pembaruan pada status ESTA saya. Padahal sejak mengajukan ESTA tidak ada perubahan apa pun dalam keadaan saya,” ujarnya.
Scott sebelumnya pernah berkunjung ke Amerika Serikat pada 2023 tanpa mengalami kendala serupa.
Kasus serupa juga dialami kakak beradik Andrew dan Nelson Speirs.
Keduanya telah memperoleh persetujuan ESTA sejak 15 Desember 2025. Namun pada 3 Juni 2026, status tersebut berubah dan menunjukkan bahwa mereka tidak lagi diizinkan melakukan perjalanan ke Amerika Serikat.
Nelson mengatakan mereka kini berlomba dengan waktu untuk mencari solusi, termasuk mengatur janji temu di Konsulat Amerika Serikat di Belfast guna mengurus visa.
Menurut Nelson, total biaya perjalanan yang telah mereka keluarkan mencapai £10.000 atau sekitar Rp221 juta (kurs Rp22.100 per poundsterling).
“Kami tidak diberi banyak waktu untuk mengatasi masalah ini. Menurut saya ini tidak adil. Mereka tidak seharusnya memberi izin lalu mencabutnya kembali. Kami baru memesan semua perjalanan setelah mendapatkan persetujuan,” katanya.
Perjalanan tersebut sejatinya dirancang sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-40 sang kakak. Nelson mengaku kabar tersebut membuatnya sangat terpukul.
Di tengah ketidakpastian yang dialami para pendukungnya, Scotland tetap bersiap menjalani kampanye mereka di Piala Dunia 2026.
Skotlandia akan memulai perjuangan di Grup C menghadapi Haiti pada 13 Juni. Setelah itu mereka akan bertemu Morocco lima hari kemudian sebelum menutup fase grup dengan laga bergengsi melawan Brazil pada 24 Juni.
Bagi para suporter yang telah mengeluarkan biaya besar untuk menyaksikan langsung turnamen tersebut, perubahan status ESTA secara mendadak menjadi ancaman serius yang berpotensi menggagalkan impian mereka hadir di ajang sepak bola terbesar di dunia.


