BerandaEntertainmentKetika Bioskop Menyusut: Strategi...

Ketika Bioskop Menyusut: Strategi Baru Menjemput Penonton

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID-| Di tengah lanskap industri hiburan yang kian kompetitif, sebuah eksperimen sederhana justru mencuri perhatian publik. Jaringan ritel Alfamart memperkenalkan “Layar Digi”, sebuah konsep bioskop mini yang disematkan di dalam gerai mereka. Inovasi ini bukan sekadar menawarkan alternatif ruang tontonan, tetapi juga menguji batas antara kebutuhan hiburan dan aksesibilitas.

Mengusung format micro cinema, Layar Digi hadir dengan kapasitas terbatas yang justru menghadirkan pengalaman lebih intim. Tidak ada kemegahan layar raksasa atau kursi berderet panjang seperti yang lazim ditemui di jaringan bioskop besar semacam Cinema XXI atau CGV Cinemas. Namun, justru di situlah letak diferensiasinya sebuah ruang ringkas yang menyesuaikan ritme cepat masyarakat urban.

Baca Juga :   Dayu AG Laporkan Bos Maheswara Musik ke Bareskrim: Hak Ekonomi Lagu “Tabah” Tak Dibayar Sejak 1994

Harga tiket yang dipatok mulai Rp15.000 menjadi sinyal kuat bahwa pasar hiburan tengah bergeser. Menonton film tak lagi identik dengan pengeluaran besar atau kunjungan ke pusat perbelanjaan. Layar Digi menawarkan kemudahan: singgah, menonton, lalu kembali ke aktivitas harian. Sebuah konsep yang nyaris menyerupai konsumsi kopi cepat saji praktis dan instan.

Aspek lain yang menarik adalah kelonggaran aturan. Penonton diperbolehkan membawa makanan dan minuman sendiri, sebuah kebijakan yang selama ini menjadi garis batas tegas di bioskop konvensional. Fleksibilitas ini, di satu sisi, membuka ruang kenyamanan baru; di sisi lain, menjadi pertanyaan tentang bagaimana standar pengalaman menonton akan bergeser ke depan.

Hingga kini, Layar Digi masih berada pada tahap awal pengembangan dengan lokasi perdana di Gading Serpong. Pilihan film yang terbatas menjadi catatan penting, sekaligus tantangan bagi keberlanjutan konsep ini. Sebab, pada akhirnya, daya tarik utama bioskop tetap bertumpu pada konten.

Baca Juga :   Ati Ganda Bakal Berbagi Kisah Perjalanan Karier di Diskusi Kartini Seni, Musik, dan Film 2026

Kehadiran bioskop mini di dalam gerai ritel menandai satu hal: industri hiburan tengah bereksperimen mencari bentuk baru yang lebih dekat dengan keseharian. Bila berhasil, model ini bukan hanya memperluas akses, tetapi juga berpotensi mengubah cara publik memaknai pengalaman menonton dari sebuah agenda khusus menjadi aktivitas spontan.|Foto : Istimewa

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Royalti Musik dan Keadilan Pencipta: Harapan Baru di Era Tata Kelola LMKN

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Tata kelola royalti dalam industri musik tidak semata berbicara...

GSW Pantura Jadi Proyek Strategis Nasional, Pemerintah Siapkan Otorita Khusus

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Proyek Giant Sea Wall (GSW) di kawasan Pantai Utara (Pantura)...

Polemik LMKN Kembali Mengemuka, LMK Klaim Sistem Royalti Rugikan Pencipta Lagu

JAKARTA,TERMINALNEWS ID— Polemik yang menyeret nama Lembaga Manajemen Kolektif Nasional kembali...

Arca “Mbah Bhelet” Dipindahkan, Fadli Zon Tekankan Penguatan Nilai Budaya Borobudur

MAGELANG,TERMINALNEWS.ID — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah...

- A word from our sponsors -

spot_img