YOGYAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Di sebuah ruang hotel tua di Yogyakarta, percakapan tentang seni rupa bergerak lebih jauh dari sekadar estetika. Ia menyentuh wilayah yang lebih strategis: identitas, jejaring, dan posisi Indonesia di panggung global.
Fadli Zon, Menteri Kebudayaan RI, memilih duduk bersama para perupa bukan di podium, melainkan dalam forum yang mencoba setara. Di Grand Hotel de Djokja, pertemuan itu menjadi semacam ruang uji: sejauh mana negara benar-benar hadir dalam denyut praktik seni rupa.
Nama-nama seperti Jumaldi Alfi, Yunizar, Putu Sutawijaya, hingga Ugo Untoro bukan sekadar daftar tamu. Mereka adalah representasi dari lanskap seni rupa Indonesia yang selama ini tumbuh dengan energi sendiri sering kali tanpa cukup infrastruktur.
Pertemuan ini membicarakan hal-hal yang terdengar klasik: ruang pamer yang terbatas, akses yang timpang, hingga mobilitas seniman yang masih bergantung pada jejaring personal. Masalah lama yang belum sepenuhnya selesai, meski wacana tentang “ekosistem” sudah lama digaungkan.
Fadli Zon menyebut negara ingin hadir membuka akses, memperkuat jejaring, dan menciptakan ekosistem yang sehat. Pernyataan yang, di atas kertas, terdengar ideal. Tapi dalam praktiknya, kehadiran negara dalam seni kerap berayun antara fasilitator dan pengendali.
Di titik ini, seni rupa tidak lagi berdiri sebagai ekspresi individual semata. Ia ditarik ke ranah yang lebih luas: diplomasi budaya. Sebuah konsep yang menempatkan karya seni sebagai wajah bangsa ditampilkan di galeri internasional, biennale, hingga forum global.
Namun pertanyaan yang mengemuka sederhana: apakah seniman siap menjadi duta, atau justru negara yang terlalu cepat memberi peran?
Bagi sebagian perupa, panggung internasional adalah peluang. Tapi bagi yang lain, ia bisa menjadi tekanan ketika karya mulai dibaca bukan lagi sebagai ekspresi personal, melainkan representasi nasional.
Meski begitu, pertemuan ini tetap penting. Ia membuka ruang dialog yang selama ini sering terputus antara kebijakan dan praktik. Bahwa seni rupa tidak cukup hanya dirayakan, tetapi juga perlu ditopang dengan sistem yang konkret.
Yogyakarta, dengan sejarah panjangnya sebagai laboratorium seni, menjadi tempat yang tepat untuk memulai percakapan ini. Kota ini telah membuktikan bahwa seni bisa tumbuh bahkan tanpa intervensi besar negara. Pertanyaannya kini: ketika negara masuk lebih jauh, apakah ia akan memperkuat atau justru mengubah arah?
Di ruang itu, jawaban belum selesai. Tapi setidaknya, percakapan sudah dimulai.|SumberKemenbudRI


