JAKARTA ,TERMINALNEWS.ID -| Apresiasi datang dari Menteri PAN-RB Rini Widyantini terhadap kinerja Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam mengawal arus mudik dan balik Lebaran 2026. Bagi pemerintah, kelancaran perjalanan jutaan orang bukan sekadar urusan lalu lintas ini soal wajah negara dalam melayani warganya.
Operasi pengamanan yang dikemas dalam Operasi Ketupat 2026 dinilai berjalan relatif mulus, meski dihantam lonjakan mobilitas yang signifikan. Jalanan padat, tapi tidak lumpuh. Sistem bekerja, petugas hadir.
Rini menekankan, pengelolaan mudik kini telah bergeser. Ia bukan lagi sekadar rekayasa arus kendaraan, melainkan bagian dari pelayanan publik yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan rasa aman. Negara, dalam hal ini, tidak boleh hanya terlihat tetapi harus terasa.
Sinergi lintas sektor menjadi kunci. Dari Polri, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, pemerintah daerah, hingga sektor kesehatan dan BUMN, semua bergerak dalam satu orkestrasi. Hasilnya: kemacetan bisa diurai, risiko ditekan.
Rekayasa lalu lintas seperti one way dan contraflow bukan lagi sekadar instrumen teknis. Ia menjelma menjadi simbol adaptasi negara terhadap dinamika lapangan. Pendekatan berbasis data real-time membuat keputusan lebih presisi dan, pada akhirnya, lebih manusiawi.
Namun, yang paling menonjol bukan hanya kelancaran arus. Kehadiran petugas di titik-titik krusial dari rest area hingga jalur rawan memberi rasa aman yang tak bisa diukur sekadar angka statistik. Di sana, pelayanan publik menemukan bentuknya yang paling nyata: interaksi langsung.
Rini menyebut tiga indikator penting. Negara hadir secara konkret. Layanan terintegrasi lintas instansi. Dan yang tak kalah penting, pendekatan human-centered public service mulai terasa di lapangan. Petugas tak sekadar mengatur, tetapi juga menyapa dan membantu.
Meski demikian, pekerjaan belum selesai. Kelelahan pengemudi masih menjadi ancaman laten. Integrasi data nasional berbasis real-time belum sepenuhnya matang. Digitalisasi layanan mudik masih perlu dipercepat agar informasi tak terpecah-pecah.
Mudik 2026 mungkin layak disebut berhasil. Tapi seperti halnya perjalanan panjang, selalu ada ruang untuk memperbaiki arah.


