BerandaSportSoccerGelandang 13 Tahun Berdarah...

Gelandang 13 Tahun Berdarah Eropa-Maroko, Ilias Siap Menguji Mimpi di Liga Soeratin U-15

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Di antara riuh kompetisi usia muda yang kerap dipenuhi selebrasi berlebihan dan ambisi orang dewasa, ada satu cerita yang bergerak lebih tenang. Namanya Ilias. Usianya 13 tahun. Perannya di lapangan: gelandang serang. Tetapi yang membuatnya menarik bukan semata teknik, melainkan lintasan hidup yang membentuknya.

Ia lahir di Swedia, dari orang tua Maroko. Sepak bola dikenalnya sejak usia prasekolah, 4–5 tahun usia ketika sebagian anak masih belajar mengikat tali sepatu. Kini, sebagai siswa Grade 7 di Jakarta International School, Ilias berdiri di simpang penting: Liga Soeratin U-15.

Bagi sebagian orang, ini hanya turnamen kelompok umur. Namun dalam peta sepak bola Indonesia, Soeratin adalah laboratorium harapan.

Baca Juga :   Laga Krusial, Widodo Targetkan Garudayaksa Menang

Warisan yang Tak Tertulis

Bakat Ilias tak bisa dilepaskan dari peran ayahnya, Hakim Akhboubouch. Sang ayah pernah melatih di sejumlah klub Skandinavia seperti Vasalund, Sollentuna, hingga Akropolis. Dari sana, disiplin menjadi bahasa pertama yang dikenalkan pada sepak bola.

Di lapangan, Ilias tidak banyak bicara. Ia membaca arah permainan. Mengatur tempo. Menyederhanakan situasi yang rumit. Ia bukan tipe pemain yang memaksakan diri menjadi pusat perhatian, tetapi sering kali justru menjadi poros yang tak tergantikan.

Sepak bola usia muda sering identik dengan kecepatan dan tenaga. Namun Ilias menawarkan sesuatu yang berbeda: kesabaran.

Klub yang Menolak Jalan Pintas

Ilias bermain untuk Tunas Indonesia, klub yang rutin berlatih di Ciracas, Jakarta Timur. Berdiri sejak 2013, klub ini memegang prinsip pembinaan murni. Mereka tidak mengambil pemain dari luar menjelang kompetisi. Tidak pula mengizinkan pemain merangkap di tim lain.

Baca Juga :   Menpora Melepas Timnas Sepakbola Amputasi Indonesia ke Amputee Football Asian Championship 2025

Semua dibangun dari dalam.

Dalam lanskap sepak bola akar rumput yang kerap pragmatis mencari hasil instan, meminjam talenta dari sana-sini sikap ini terasa hampir idealistis. Namun justru di situlah daya tawarnya. Kekompakan tak dibeli. Ia dirawat.

Ilias masuk dalam ekosistem itu setahun terakhir. Ia tak datang sebagai “bintang impor”, melainkan bagian dari proses.

Lebih dari Sekadar Turnamen

Liga Soeratin U-15 bukan hanya tentang trofi. Ia adalah ruang belajar: tentang tekanan, tentang ekspektasi, tentang jatuh dan bangkit. Banyak nama besar sepak bola nasional meniti jalan dari kompetisi ini.

Bagi Ilias, ini mungkin hanya satu musim dalam perjalanan panjang. Namun di usia 13 tahun, setiap sentuhan bola adalah investasi karakter. Setiap keputusan di lapangan adalah pelajaran tentang tanggung jawab.

Baca Juga :   BRI Super League 2025/26 Resmi Diluncurkan, Sepak Bola Indonesia Masuki Era Baru

Sepak bola kerap membesar-besarkan cerita. Tetapi kisah seperti ini justru menemukan kekuatannya dalam kesederhanaan: seorang anak dengan darah lintas benua, tumbuh dalam disiplin, memilih jalur pembinaan yang sunyi.

Dan di Liga Soeratin musim ini, mungkin kita tidak hanya menyaksikan pertandingan. Kita sedang melihat sebuah proses yang kelak, entah di mana panggungnya, bisa saja menemukan bentuk terbaiknya.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Royalti Musik dan Keadilan Pencipta: Harapan Baru di Era Tata Kelola LMKN

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Tata kelola royalti dalam industri musik tidak semata berbicara...

GSW Pantura Jadi Proyek Strategis Nasional, Pemerintah Siapkan Otorita Khusus

JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Proyek Giant Sea Wall (GSW) di kawasan Pantai Utara (Pantura)...

Polemik LMKN Kembali Mengemuka, LMK Klaim Sistem Royalti Rugikan Pencipta Lagu

JAKARTA,TERMINALNEWS ID— Polemik yang menyeret nama Lembaga Manajemen Kolektif Nasional kembali...

Arca “Mbah Bhelet” Dipindahkan, Fadli Zon Tekankan Penguatan Nilai Budaya Borobudur

MAGELANG,TERMINALNEWS.ID — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah...

- A word from our sponsors -