JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Diego Aslan tak sekadar kembali bermain. Ia kembali dengan pesan keras: masa depan masih miliknya.
Gelandang serang berkaki kiri kelahiran 18 November 2010 ini bangkit dari cedera panjang dan langsung menjadi motor permainan Mavericks FC. Hampir enam bulan Diego menepi akibat Osgood Schlatter cedera tulang kering yang umum menghantui pemain usia remaja. Bahkan sempat terjadi retakan tulang di akhir 2024.
Namun Diego memilih diam, memulihkan diri, lalu kembali dengan performa yang berbicara.
Musim 2025 menjadi panggung kebangkitan. Meski baru berada di kondisi sekitar 90 persen, Diego langsung membawa Mavericks U15 finis peringkat tiga Askot. Lebih dari sekadar hasil, kehadirannya membuat pelatih kembali mengaktifkan skema terbaik tim.
Manager Mavericks FC, Syafri, menyebut Diego sebagai pembeda.
“Begitu Diego kembali, permainan hidup lagi. Dia pengatur ritme. Kami sangat senang dia bisa memperkuat tim lagi,” ujar Sang Manager dalam sesi wawancara dengan Terminalnews.id di Markas Kandang Ayam,Rawamangun,Jakarta Timur,Minggu(8/2)

Di lapangan, Diego adalah playmaker modern: pengatur tempo, pemberi umpan presisi, dan spesialis tendangan jarak jauh. Di Askot 2025 kelompok usia 2010, ia mencetak 7 gol dari luar kotak penalti dan bola mati. Pada Askot 2024, saat masih bermain di kelompok usia 2009, ia mengoleksi 8 gol.
Bersama Mavericks sejak usia 6,5 tahun, Diego tumbuh dalam satu generasi yang telah bermain bersama sejak 2019. Skuad kelahiran 2009–2010 ini dijuluki “kuda emas” simbol konsistensi pembinaan akademi.
Prestasinya panjang: juara Tiger Cup U8, empat besar Indonesia Junior League, empat besar Bangkok International Cup, hingga terpilih sebagai salah satu dari 10 anak berbakat Indonesia di ajang Super10 RTV.
Namanya juga tercatat dalam sejarah lewat rekor nasional juggling Kemenpora selama 1 jam 30 menit, dicetak saat usianya belum genap 10 tahun jauh meninggalkan pesaing terdekat.
Di level U15, Diego makin matang. Tahun 2024 ia meraih juara ASC Cup sekaligus top skor, juara Gala Siswa Jakarta Barat, runner-up Askot, serta menyabet MVP Liga TopSkor U15.
Kini Diego kembali menjadi ikon Mavericks. Bukan hanya karena teknik kaki kirinya, tapi karena mentalnya: jatuh, bangkit, lalu memimpin.
Target berikutnya sudah di depan mata: Liga Jakarta U-17.
Dengan vis bermain tajam, pengalaman nasional internasional, serta karakter petarung, Diego Aslan siap membuka babak baru. Dari ruang pemulihan hingga lini tengah lapangan maestro muda itu telah kembali. Dan Jakarta bersiap menyaksikan ledakannya.

