🎬Di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, selembar kain tidak lahir dari ruang desain modern. Ia tumbuh dari kehidupan sehari-hari.
JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Di rumah panjang yang berdiri di tepi sungai, perempuan lintas generasi duduk berderet, menenun sambil berbagi cerita. Di sanalah Tenun Iban Sadap hidup bukan sekadar sebagai kerajinan, tetapi sebagai cara menjaga ingatan, identitas, dan hubungan dengan alam.
Bagi masyarakat adat Dayak Iban, menenun adalah bagian dari ritme hidup. Pewarna diambil dari daun, akar, dan kulit kayu. Alat tenun dibuat dari bambu. Semua menyatu dengan alam sekitar.
“Tenun bukan hanya produk, tapi simbol identitas dan ekspresi nilai kehidupan masyarakat adat Dayak Iban. Di dalamnya ada makna spiritual, sosial, dan kearifan lokal,” ujar Magareta Mala, penggerak Festival Tenun Iban Sadap.
Nilai inilah yang coba dibagikan lewat Festival Tenun Iban Sadap pertama yang digelar pada Desember lalu. Bagi komunitas, festival ini menjadi tonggak penting untuk memastikan tradisi menenun tetap hidup, beserta pengetahuan yang menyertainya.
Selembar Kain Sarat Makna
Tenun Iban Sadap memiliki empat jenis utama: kebat, sungkit, pileh, dan sidan. Di antaranya, kebat dianggap paling sakral. Motifnya menggambarkan manusia, hewan, hingga simbol-simbol tertentu yang digunakan dalam berbagai fase kehidupan dari kelahiran hingga suasana duka.
Setiap motif menyimpan kisah tentang alam dan roh leluhur, diwariskan dari generasi ke generasi.
Seiring meningkatnya minat publik, komunitas penenun kini juga membuka paket tur tenun. Ada program singkat untuk dokumentasi, hingga paket tinggal lebih lama bagi mereka yang ingin benar-benar belajar menenun.
“Pernah ada mahasiswa dari Kuala Lumpur tinggal cukup lama di sini. Ia belajar prosesnya dari awal sampai akhir, lalu pulang membawa hasil tenunnya sendiri,” cerita Mala
Namun, yang paling diharapkan bukanlah banyaknya pengunjung, melainkan kesediaan untuk memahami proses.

Dari Alam, Kembali ke Alam
Setiap helai tenun menyimpan cerita tentang hutan yang dijaga, sungai yang tetap mengalir, dan pengetahuan lokal yang terus hidup.
“Ketika menenun, artinya kami juga memelihara bumi. Banyak tanaman pewarna diambil dari wilayah adat. Kalau wilayah itu hilang, tradisi menenun juga ikut hilang,” kata Herkulanus Sutomo dari AMAN Kapuas Hulu.
Peralatan tenun dibuat sendiri, pewarna berasal dari alam, dan seluruh proses dilakukan secara mandiri. Karena itu, menjaga wilayah adat menjadi kunci keberlanjutan tradisi.
Bagi masyarakat Iban Sadap, pelestarian budaya tak bisa dipisahkan dari pelestarian alam.
Rumah Panjang, Jantung Kehidupan
Rumah panjang bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah cara hidup.
Di dalam bangunan memanjang itu, beberapa keluarga hidup bersama. Ruai ruang komunal menjadi pusat aktivitas: tempat upacara adat, berkumpul, sekaligus menenun.
Menariknya, menenun di ruai menciptakan semangat kolektif. Ketika satu orang mulai bekerja, yang lain ikut terdorong. Bukan persaingan yang menjatuhkan, melainkan saling menguatkan.
“Di sini tenun bukan hanya dipelajari, tapi dihidupi,” ujar Sutomo.
Penenun Muda Meneruskan Cerita
Regenerasi selalu menjadi tantangan, termasuk dalam tradisi menenun. Namun, masih ada anak muda yang mau belajar.
Salah satunya Yosefa Kiki Nayah Sari. Di sela kesibukan bekerja, ia meluangkan waktu berjam-jam untuk menenun.
“Seru kalau menenun ramai-ramai di ruai. Kalau teman menenun, saya jadi ikut semangat,” katanya.
Harapannya sederhana: semakin banyak generasi muda yang bergerak, semakin terjaga pula nilai wastra warisan leluhur.
Festival Tenun Iban Sadap bukan hanya perayaan budaya. Ia adalah gerakan untuk memulihkan hubungan antara manusia, pengetahuan leluhur, dan alam.
Di tangan para penenun, benang bukan sekadar bahan ia adalah memori, doa, dan masa depan.|Foto : Istimewa.

