JAKARTA, TERMINALNEWS.ID — Gelaran Diskusi Riang Gembira #Perempuan Hebat di Industri Musik dan Film Jilid 3 Tahun 2025 berlangsung meriah di Aula Universitas Muhammadiyah Prof. Hamka (UHAMKA), Jakarta.
Kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa, komunitas ibu-ibu Jabodetabek, serta masyarakat umum.
Diskusi dibagi dalam dua sesi yang sama-sama menyedot antusiasme peserta. Sesi pertama menghadirkan narasumber dari dunia film, di antaranya Dr. Yessy Gusman, Vinessa Inez, serta Titin Setiawati (Dosen UHAMKA sekaligus Komisioner Lembaga Sensor Film).
Sesi ini dipandu oleh Ratna Listy dan berlangsung hangat dengan beragam kisah inspiratif perempuan di industri perfilman.
Memasuki sesi kedua, meski jadwal sempat molor karena padatnya diskusi sesi awal, semangat peserta tak surut. Mereka menantikan paparan para pelaku industri musik yang tak kalah inspiratif, seperti Yuyun George, Seksopon, serta pemain flute kelas dunia Tellys Corliana yang juga menjabat sebagai Dekan FISIP UHAMKA. Diskusi sesi kedua dipandu oleh desainer busana muslim ternama Nina Nugroho.
Diskusi sesi musik dibuka oleh Tellys Corliana, akademisi yang telah lebih dari tiga dekade mengabdikan diri di dunia pendidikan. Dengan tutur tenang, ia membagikan pengalamannya menyeimbangkan peran sebagai dosen, dekan, sekaligus ibu.
“Saya jarang di rumah pada siang hari, tapi anak-anak melihat langsung bahwa perempuan bisa berperan lebih luas,” ujar Tellys. Ia menegaskan bahwa bekerja di luar rumah bukan bentuk pengabaian terhadap keluarga, melainkan teladan nyata bagi anak-anak.
Dukungan suami dan anak-anak menjadi kekuatan utama dalam perjalanan kariernya. Bahkan, anak-anaknya mengaku terinspirasi melihat aktivitas sang ibu di ruang publik.
Kisah berlanjut ke Yuyun George, musisi perempuan yang telah mencintai musik sejak usia muda. Sejak pertama kali memegang saksofon, ia yakin musik adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
“Musik itu separuh jiwa saya,” ungkap Yuyun. Puluhan tahun berkiprah di panggung nasional hingga internasional tak membuatnya lelah. Konsistensi dan dukungan keluarga, termasuk studio kecil di rumah, menjadi kunci ketahanannya di industri musik.
Sebagai perempuan di dunia musik yang didominasi laki-laki, Yuyun mengaku pernah diragukan. Namun, kritik justru menjadi pemacu. “Kalau mau dihargai dan meraih impian, jadilah musisi yang profesional,” tegasnya.
Diskusi juga menyoroti peran ibu dalam membentuk keberanian dan karakter anak. Penyanyi muda Jane Callista mengungkapkan bahwa ibunya bukan hanya orang tua, tetapi juga sahabat dan penjaga arah hidupnya.
Jane mengaku bakat menyanyinya sempat tak diketahui orang tua karena sering berlatih secara diam-diam. Namun, ketika sang ibu mengetahui bakat tersebut, dukungan penuh pun diberikan.
“Berkat dukungan Mamih, saya bisa berada di sini. Terima kasih Mamih, I love you,” ujar Jane dengan senyum haru.
Para pembicara sepakat bahwa era digital membuka peluang besar bagi perempuan untuk berkarya. Namun, di balik peluang itu, terdapat tantangan serius seperti tekanan dan kekerasan di media sosial. Literasi digital dan kepekaan nurani dinilai penting agar teknologi menjadi sarana pemberdayaan, bukan jebakan.
Diskusi yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI, UHAMKA, FISIP UHAMKA, serta berbagai mitra seperti Le Lagoon, Project 69, Proaktif Musik, hingga Divia Production ini bukan sekadar ajang berbagi pengalaman.
Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang refleksi tentang peran perempuan dalam mewariskan nilai, keteladanan, dan inspirasi lintas generasi.
Di akhir acara, satu pesan mengemuka: setiap perempuan memiliki talenta yang dititipkan Tuhan. Ketika dijalani dengan kesungguhan dan niat baik, talenta itu akan tumbuh menjadi inspirasi bagi keluarga, masyarakat, dan masa depan.

