JAKARTA,TERMINALNEWS.ID— Polemik mengenai cara pengkolektifan royalti musik di Indonesia kembali mendapat sorotan. CEO USEA Global, Jerry Chen, mengungkapkan bahwa sejumlah kliennya di sektor bisnis mengaku pernah menerima ancaman secara lisan dari pihak Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) terkait pembayaran royalti.
Dalam sebuah diskusi di kawasan Petogogan, Jakarta Selatan, Senin (17/11/2025), Jerry memaparkan bahwa beberapa pelaku usaha,termasuk restoran ternama di Jakarta mengalami pembatalan kerja sama akibat tekanan yang diklaim berasal dari LMKN.
“Ancaman itu disampaikan secara lisan, tanpa bukti tertulis, WhatsApp, atau surat resmi. Mereka mengatakan musik yang diputar melanggar, padahal tidak. Situasi seperti ini dialami banyak bisnis, hanya tidak banyak yang terekspos ke media,” kata Jerry.
Isu mengenai LMKN yang bersikap bak “preman” sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah pengusaha hotel pernah menyampaikan keluhan serupa beberapa tahun lalu, terutama sebelum sistem pengelolaan royalti memasuki era digitalisasi seperti saat ini. LMKN belakangan memang berupaya membenahi transparansi dan proses digital mereka agar tidak lagi memunculkan kesan negatif.
Teknologi Pelacakan USEA: “Tidak Bisa Dipalsukan”
Dalam kesempatan yang sama, Jerry menjelaskan bagaimana platform USEA Global mampu melacak penggunaan musik secara akurat melalui perangkat audio yang digunakan bisnis, seperti speaker atau amplifier.
“Semua musik yang diputar dapat dipertanggungjawabkan. Satu kali putar akan tercatat satu kali dalam sistem. Pembaruan datanya muncul setiap 24 jam. Transparan dan tidak bisa dimanipulasi,” jelasnya.
Platform tersebut, menurut Jerry, membuat klien dari industri F&B hingga ritel merasa lebih aman karena data penggunaan musik bisa diaudit secara jelas—sebuah hal yang selama ini menjadi sumber ketidakpastian bagi pelaku usaha terkait kewajiban royalti.
Royalti Mahal? “Tergantung Siapa Pembayarnya”
Perdebatan mengenai mahal atau tidaknya biaya lisensi musik juga menjadi sorotan dalam diskusi tersebut. Jerry menilai bahwa nilai royalti seharusnya dipahami dari sudut pandang bisnis, bukan sekadar nominal.
“Biaya lisensi itu relatif. Mahal atau tidak bergantung pada siapa yang membayar. Yang penting adalah bagaimana sebuah bisnis menilai nilai dari musik yang digunakan,” ujarnya.
Menurut Jerry, penggunaan musik berlisensi harus dipandang sebagai investasi untuk menciptakan suasana, pengalaman pelanggan, sekaligus bentuk dukungan terhadap musisi.|Foto : AntaraNews.

