BerandaNewsNasionalKunjungan Paus Fransiskus Wujudkan...

Kunjungan Paus Fransiskus Wujudkan Kerukunan Antarumat Beragama

JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Bulan September ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang dikunjungi oleh Paus Fransiskus.

Paus ke 266 dari Vatikan ini berkunjung untuk menyampaikan pesan-pesan keimanan dan perdamaian, yang diharapkan dapat menguatkan rasa persahabatan yang telah terjalin antarumat beragama di Indonesia.

Guru Besar bidang Ilmu Tafsir UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Sahiron Syamsuddin, MA., menjelaskan bahwa kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia memiliki urgensi yang sangat besar bagi banyak pihak. Hal ini dapat berdampak positif pada persahabatan dan kerukunan umat beragama di Indonesia, khususnya bagi umat Katolik dan Islam.

“Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia sangat penting untuk memperkuat toleransi dan harmoni antar umat beragama. Paus Fransiskus sangat concerned terhadap isu-isu kemanusian, keadilan dan perdamaian,” ungkap Prof. Sahiron, Rabu (4/9/2024).

Lebih lanjut, Prof. Sahiron menguraikan bahwa kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia juga bisa diartikan sebagai bentuk perhatian dan apresiasi umat Katolik di seluruh dunia pada keberhasilan Indonesia dalam mengelola toleransi antarumat beragama.

Baca Juga :   Paus Undang Puan ke Vatikan, Hadiri KTT Pemimpin Dunia Tentang Anak

Wujud perhatian ini diharapkan dapat dikelola dengan baik oleh Indonesia, sehingga dapat menjadi percontohan bagi dunia Internasional bahwa kemajemukan dapat dinaungi dengan baik melalui Pancasila dan UUD 1945.

Prof. Sahiron juga menyebutkan, perdamaian yang telah terjalin lama di Indonesia terkadang mendapatkan gangguan dari pihak-pihak tertentu yang menyebabkan konflik antarumat beragama.

Tanpa terkecuali, pemeluk agama Islam dan Kristen di Indonesia sempat beberapa kali terjebak dalam konflik yang sifatnya primordial dan cenderung tidak substansial.

Padahal, penyebab konflik biasanya diawali dari hal yang sepele, namun karena kurangnya komunikasi yang efektif dari kedua belah pihak, masalah kian menajam.

“Konflik-konflik yang pernah terjadi Indonesia yang melibatkan umat-umat beragama, khususnya Islam dan Kristen, itu muncul bukan karena ajaran agama masing-masing, tetapi karena faktor politik dan ketidakadilan. Kita semua tentu berharap agar konflik-konflik serupa tidak terjadi lagi,” jelas Prof. Sahiron.

Selain itu, Prof. Sahiron yang juga aktif menjadi pengajar pada Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga ini berpendapat bahwa perbedaan keyakinan sebenarnya tidak menjadi penghalang bagi mereka yang berbeda keimanan dalam berbuat kebaikan.

Baca Juga :   Kunjungan Paus Fransiskus Pupuk Kasih Sayang dan Persaudaraan Sekaligus Bantahan Terhadap Narasi Ekstremisme

Menurutnya, semua agama yang ada mengajarkan kebaikan dan persatuan antar manusia, sehingga manusia seharusnya mampu saling menghormati dan toleransi.

Jika masih ada manusia yang berbuat sebaliknya, yakni menyebarkan perpecahan dan permusuhan, maka bisa disimpulkan bahwa dia belum memahami agamanya dengan benar.

“Perbedaan agama, keyakinan dan aliran bukan merupakan faktor penyebab konflik, karena semua agama mengajarkan persatuan antarumat manusia, saling menghormati dan bertoleransi. Kalau pun ada teks-teks agama yang mengindikasikan sebaliknya, maka teks-teks itu harus dipahami secara baik dan benar. Penafsiran kontekstual perlu diutamakan dengan memperhatikan konteks turunnya teks-teks keagamaan dalam konteks kekinian,” urai Prof. Sahiron.

Terkait dengan hubungan lintas keimanan dan dampaknya terhadap stabilitas nasional, Prof. Sahiron mengatakan bahwa hal ini berkorelasi secara langsung.

Sebabnya, dengan rukunnya antarumat beragama di Indonesia, maka rakyatnya tidak mudah dipecah belah oleh isu-isu yang sifatnya temporer dan politis.

Baca Juga :   Perkuat Kerjasama Maritim, Delegasi Ghana Kunjungi Indonesia

“Hubungan lintas keimanan yang baik memberi dampak yang sangat positif pada stabilitas nasional,” imbuhnya.

Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia juga menyiratkan tentang baiknya hubungan Indonesia dengan Vatikan.

Hubungan kedua negara ini dapat menjadi simbol persatuan dalam perbedaan, mengingat Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, dan Vatikan adalah negara yang menjadi pusat keagamaan Katolik.

Menurut Prof. Sahiron, relasi Indonesia dengan Vatikan sejauh ini sangat baik. Hubungan yang baik ini harus dipertahankan dan ditingkatkan, sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi kedua negara.

Dalam mengelola perbedaan antarumat beragama, Prof Sahiron berharap agar Indonesia bisa semakin dewasa dan kuat terhadap terpaan isu-isu yang bernuansa politis dan mampu memicu polarisasi.

Indonesia harus bisa menjadi role model bagi dunia akan keberhasilannya dalam mengelola perbedaan keyakinan diantara warga negaranya.

“Agar toleransi terus meningkat, diharapkan aktivitas-aktivitas positif, seperti dialog antarumat beragama, penguatan moderasi beragama, dan lain sebagainya, dapat dilaksanakan secara masif dan lebih efektif,” jelas Prof. Sahiron.

- A word from our sponsors -

spot_img

Most Popular

More from Author

Arsenal Siapkan Cuci Gudang Demi Datangkan Vinicius Junior dan Bruno Guimaraes

TERMINALNEWS.ID, LONDON - Arsenal dikabarkan siap melepas sejumlah pemain pada bursa...

JJ Gabriel Belum Bisa Teken Kontrak Profesional Bersama Manchester United, Ini Alasannya

TERMINALNEWS.ID, MANCHESTER – Wonderkid Manchester United, JJ Gabriel, belum dapat menandatangani...

Manchester United Incar Bek Muda Arsenal Myles Lewis-Skelly, Siapkan Tawaran pada Bursa Transfer Musim Panas

TERMINALNEWS.ID, MANCHESTER – Manchester United dikabarkan tengah mempersiapkan langkah untuk menguji...

Arsenal Siap Jual Lima Pemain Demi Boyong Vinicius Junior dan Bruno Guimaraes, Nilai Transfer Tembus Rp1,7 Triliun

TERMINALNEWS.ID, LONDON - Arsenal dikabarkan siap melakukan perombakan besar pada skuadnya...

- A word from our sponsors -