BANDUNG,TERMINALNEWS.ID -| Di tengah dinamika global yang kian kompleks, semangat solidaritas dan kerja sama antarbangsa kembali digaungkan. Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan menggelar peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) bertajuk Bandung Spirit: Budaya sebagai Jembatan Perdamaian Dunia di Hotel Savoy Homann.
Momentum ini menjadi upaya strategis untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Dasasila Bandung dalam konteks kekinian, sekaligus menegaskan peran kebudayaan sebagai fondasi perdamaian global.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam pidatonya menyoroti kondisi dunia yang tengah menghadapi ketidakpastian dan erosi kepercayaan antarnegara. Situasi ini, menurut dia, ditandai dengan meningkatnya konflik, rivalitas geopolitik, hingga kompetisi ilmu pengetahuan yang kian tajam.
Di tengah kondisi tersebut, ancaman terhadap warisan budaya juga semakin nyata mulai dari kerusakan situs bersejarah hingga hilangnya jejak peradaban akibat konflik bersenjata.
“Jika kita ingin membangun perdamaian yang berkelanjutan, maka kita harus melindungi kebudayaan. Tidak boleh ada perang yang menghapus sejarah suatu bangsa atau membungkam identitas,” tegas Fadli.
Ia menambahkan, di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, Indonesia tetap berkomitmen pada prinsip non-blok, aktif dalam kerja sama global, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di dalam negeri, penguatan ketahanan nasional terus dilakukan melalui pembangunan sumber daya manusia, ketahanan pangan, serta berbagai program menuju Indonesia Emas 2045.
Peringatan ini juga diisi dialog kebudayaan bertajuk Refleksi Nilai Historis Konferensi Asia Afrika dalam Perspektif Kebudayaan. Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber, di antaranya Duta Besar Mesir Yasser Hassan Farag Elshemy, Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa, serta akademisi Anton Aliabbas. Diskusi dipandu oleh Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri.
Menanggapi diskusi tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan inisiatif Pemerintah Kota Bandung untuk mengusulkan kawasan Simpang Lima meliputi Jalan Asia Afrika hingga Otista sebagai warisan budaya dunia UNESCO. Usulan ini diharapkan menjaga identitas visual sekaligus nilai historis Bandung sebagai kota lahirnya semangat solidaritas Asia-Afrika.
Selain dialog, acara juga diwarnai peluncuran buku Konferensi Asia Afrika dalam Gambar yang merekam jejak visual peristiwa bersejarah tersebut, mulai dari kedatangan delegasi hingga dinamika sidang dan kegiatan kebudayaan.
Rangkaian kegiatan semakin lengkap dengan pameran 71 tahun KAA yang menyajikan foto dan narasi sejarah melalui pendekatan edukatif dan kuratorial. Sejumlah perwakilan diplomatik dari negara-negara peserta KAA 1955 turut hadir, bersama pejabat kementerian, anggota legislatif, komunitas budaya, serta para sejarawan dan budayawan.
Melalui peringatan ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya menjadikan KAA sebagai instrumen diplomasi budaya. Upaya ini diwujudkan melalui penguatan kerja sama antarnegara, pertukaran pengetahuan, serta pelestarian warisan budaya.
Di tengah dunia yang terus berubah, Bandung Spirit kembali ditegaskan sebagai pijakan moral bahwa kebudayaan bukan sekadar identitas, melainkan jembatan yang menghubungkan perbedaan dan merawat perdamaian dunia.[*]


