TERMINALNEWS.ID, JAKARTA — Upaya mendorong lansia tetap aktif dan mandiri terus dilakukan Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi). Salah satunya melalui Training of Trainers (TOT) Pelatihan Instruktur Senam Osteoporosis yang digelar selama dua hari, 18–19 September 2026, di Jakarta.
Pelatihan tersebut ditujukan untuk membekali peserta dengan kemampuan menjadi instruktur yang mampu mengajarkan senam osteoporosis sekaligus menyesuaikan aktivitas fisik dengan kondisi dan kemampuan para lanjut usia.
Ketua Umum Perwatusi, Ny. Anita A. Hutagalung, menutup secara resmi kegiatan pada Sabtu (19/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga dilepas untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan di lingkungan masing-masing.
Ketua Panitia, Dr. Ida Widnubaroto, menyampaikan laporan kegiatan pada pembukaan yang berlangsung Jumat (18/9). Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum Perwatusi dan pembukaan oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, dr. Imran Pambudi, MPAM.
Tidak hanya belajar gerakan
Materi pelatihan tidak berhenti pada penguasaan rangkaian gerakan senam. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya aktivitas fisik bagi kelompok lanjut usia.
DR. Dr. Rensa, Sp.PD, Subsp. Ger (K), FINASIM, memberikan materi mengenai peran senam osteoporosis dalam mendukung kebugaran fisik dan fungsi kognitif pada usia lanjut.
Materi lain disampaikan Dr. Ade Tobing, Sp.KO, Subsp. APK (K) melalui pengenalan Chair Exercise. Latihan menggunakan kursi tersebut menjadi salah satu alternatif aktivitas fisik bagi lansia yang memiliki keterbatasan dalam bergerak.
Peserta juga memperoleh tutorial Senam Osteoporosis Baku yang dipandu Dr. Ade Tobing bersama Yenny Maria. Pembekalan kemudian dilanjutkan dengan latihan koreografi dan pembagian kelompok untuk mempersiapkan praktik pada hari kedua.
Suasana pelatihan dibuat tidak hanya berorientasi pada materi dan praktik. Sesi “Dandan Cantik ala IOP” yang dipandu Tatik turut memberikan nuansa berbeda sekaligus membangun keakraban antarpeserta.
Peserta diuji melalui praktik
Pada hari kedua, fokus pelatihan beralih pada pemantapan kemampuan peserta. Mereka kembali berlatih koreografi secara berkelompok sebelum menampilkan hasil latihan di hadapan tim penilai.
Setelah waktu istirahat, salat, dan makan (ISOMA), peserta mengikuti ujian praktik. Tahapan ini digunakan untuk melihat sejauh mana calon instruktur mampu menerapkan materi yang telah dipelajari selama pelatihan.
Kemampuan peserta tidak hanya dilihat dari ketepatan mengikuti gerakan, tetapi juga dari pemahaman terhadap pelaksanaan senam secara terstruktur.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup pada Sabtu sore. Penutupan diisi dengan penyerahan sertifikat, pembagian hadiah, penyampaian pesan dan kesan dari perwakilan peserta, serta foto bersama.
Perluas akses aktivitas fisik lansia
Melalui TOT tersebut, Perwatusi ingin memperluas ketersediaan instruktur yang dapat mendampingi masyarakat dalam melakukan aktivitas fisik, khususnya kelompok lanjut usia.
Para peserta yang telah mengikuti pelatihan diharapkan dapat membawa pengetahuan dan keterampilan tersebut ke komunitas masing-masing. Dengan semakin banyak instruktur yang memiliki pemahaman mengenai senam osteoporosis, akses lansia terhadap aktivitas fisik yang sesuai diharapkan turut bertambah.
Bagi Perwatusi, aktivitas fisik pada usia lanjut bukan semata-mata tentang kemampuan melakukan gerakan. Lebih dari itu, aktivitas yang dilakukan secara tepat dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup.
Dengan pendampingan yang sesuai kemampuan fisik masing-masing, para lansia tetap dapat menjalani aktivitas secara aktif dan menjaga kebugaran di tengah bertambahnya usia.

