TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Jauh dari laut dan Gunung Kie Besi, ikatan persaudaraan warga Maluku Utara di tanah rantau tetap terjaga.
Hal itu terlihat dalam kegiatan silaturahmi yang digelar Komunitas DIASPORA Malut dan Makayoa Bersatu di kediaman Ketua Pembina, Nabil M. Salim.
Pertemuan berlangsung sederhana, tetapi sarat keakraban. Tidak ada panggung megah ataupun acara seremonial. Para peserta justru berkumpul menikmati hidangan khas Maluku Utara, mulai dari papeda, ikan kuah kuning, sambal colo-colo, hingga beragam sambal khas Maluku Utara.

Suasana semakin hangat dengan hadirnya beberapa set kartu domino yang menjadi salah satu pusat perhatian. Permainan berlangsung penuh canda dan persaingan sehat. Teriakan “domino!” sesekali terdengar dan langsung disambut gelak tawa peserta.
Bagi warga Maluku Utara yang berada di perantauan, papeda memiliki makna lebih dari sekadar makanan. Hidangan tersebut menjadi pengingat akan kampung halaman, termasuk suasana dapur dan kebersamaan keluarga di Ternate, Tidore, Makian, Bacan, Tobelo, hingga Morotai.
“Di sini torang semua basudara,” ujar Ketua Pembina Nabil M. Salim saat menikmati suasana kebersamaan bersama para anggota komunitas.

Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan bagi warga untuk bertukar cerita, menanyakan kabar keluarga di kampung halaman, sekaligus saling memberikan dukungan selama berada di tanah rantau.
Di bawah pembinaan Nabil M. Salim, Komunitas DIASPORA Malut dan Makayoa Bersatu menunjukkan bahwa jarak tidak menghalangi warga Maluku Utara untuk mempertahankan rasa persaudaraan dan identitas daerah.

Papeda, ikan kuah kuning, sambal khas Maluku Utara, hingga permainan domino menjadi bagian dari cara sederhana mereka menjaga kedekatan dengan kampung halaman.
TOMMY R. ARIEF

