JAKARTA TERMINALNEWS.ID – Yustinus Prastowo, akademisi sekaligus communication strategist, menyerukan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dari berbagai lapisan dalam membangun Indonesia pasca-pergantian kepemimpinan nasional.
Dikatakan Yustinus, upaya ini dapat diwujudkan melalui kolaborasi holistik antara masyarakat sipil dan otoritas di berbagai tingkatan.
“Umat Katolik harus hadir dengan semangat spirit of excellency, menghidupkan kembali nilai-nilai terbaik yang tergerus oleh pragmatisme dan instanisme,” ungkap Yustinus ketika berbicara dalam Pertemuan Rasul Awam Keuskupan Agung Jakarta di Rawamangun, Jakarta Timur, Sabtu (23/11/2024).
Ia juga menegaskan bahwa kesetiaan pada nilai-nilai gereja dan bangsa adalah kunci menjaga Indonesia dari degradasi moral.
Kolaborasi Tokoh Katolik Nasional
Pertemuan ini menghadirkan delapan tokoh Katolik berpengaruh, termasuk Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara RD Dr. Simon Petrus Lili Tjahjadi, pengusaha Anton J. Supit, serta pejabat dan profesional seperti Direktur Jenderal Kefarmasian Kemenkes RI Dr. Lucia Rizka Andalucia dan Kepala Badan Keahlian DPR RI Dr. Inosentius Samsul. Diskusi tersebut mengupas tema “Harapan untuk Era Baru Indonesia: Bekerja untuk Kepentingan Bersama, Kesejahteraan Sosial, Keadilan, Supremasi Hukum, dan Persatuan Bangsa.”
Ketua Tim Sinergi Bidang Prioritas 4 (TSBP4) Keuskupan Agung Jakarta, RD Antonius Suyadi, menjelaskan bahwa acara ini adalah respons terhadap seruan Ignatius Kardinal Suharyo. Dalam Buku Merah Gagasan Dasar Arah Dasar KAJ 2022–2026, Kardinal Suharyo mendorong umat Katolik untuk berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dengan berlandaskan Ajaran Sosial Gereja.
“Melalui keterlibatan aktif, umat Katolik dapat memberikan kontribusi nyata demi bonum commune atau kesejahteraan bersama,” kata Romo Suyadi.
Nilai-Nilai Pancasila dan Sikap Kenabian
Dalam diskusi, RD Simon Lili menekankan pentingnya Pancasila sebagai sumber nilai utama dalam kehidupan berbangsa. “Pancasila sejalan dengan perjuangan nilai Katolik, terutama dalam menciptakan harmoni kehidupan bersama,” ujar Simon.

Ia juga menggarisbawahi dua keutamaan yang harus dimiliki masyarakat: sikap positif dan konstruktif, serta daya kritis yang disebutnya sebagai sikap kenabian. Pandangan ini diperkuat oleh Anton J. Supit, yang menekankan pentingnya kaderisasi dan sinergi kekuatan publik demi mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
Mendorong Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial
Selain itu, Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana menyoroti pentingnya demokrasi yang berlandaskan kepastian hukum dan penghormatan hak asasi manusia. Pendekatan serupa disampaikan Dr. Lucia Rizka Andalucia dan Dr. Agnes Irwanti, yang menekankan bahwa pelayanan birokrasi harus membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Isu disabilitas juga menjadi perhatian khusus. Komisioner Komisi Nasional Disabilitas RI, Kikin P. Tarigan, menyoroti kurangnya perhatian terhadap penyandang disabilitas, terutama di wilayah terpencil seperti Morotai, Maluku.
Pembentukan Tim Koordinasi Awal
Sebagai tindak lanjut, terbentuk Tim Koordinasi Awal yang dipimpin oleh Yustinus Prastowo. Tim ini akan mengembangkan kelompok kerja untuk merancang dan melaksanakan inisiatif prioritas publik di Keuskupan Agung Jakarta.
Dengan kolaborasi lintas sektor, pertemuan ini menjadi langkah awal untuk membangun Indonesia yang lebih baik melalui keterlibatan aktif masyarakat sipil dalam berbagai bidang pelayanan publik.

