AMSTERDAM, TERMINALNEWS.ID – Mantan bintang Timnas Belanda menilai dirinya, Franck Ribery, dan Robert Lewandowski sama-sama layak meraih penghargaan bergengsi tersebut.
Wesley Sneijder dikenal sebagai salah satu gelandang terbaik dunia pada masa keemasannya.
Ia pernah memperkuat klub-klub besar seperti Ajax, Real Madrid, Galatasaray, Nice, dan Al-Gharafa, namun performa terbaiknya justru terjadi saat membela raksasa Italia, Inter Milan.
Puncak karier Sneijder terjadi pada tahun 2010. Ia sukses mengantar Inter meraih treble winners — menjuarai Liga Champions, Serie A, dan Coppa Italia dalam satu musim. Tak hanya itu, ia juga menjadi sosok kunci yang membawa Timnas Belanda melaju hingga final Piala Dunia 2010.

Berkat pencapaian luar biasa itu, banyak pihak menilai Sneijder seharusnya memenangkan Ballon d’Or tahun tersebut. Namun kenyataannya, penghargaan individu tertinggi dalam dunia sepak bola itu justru jatuh ke tangan Lionel Messi.
Kini, 15 tahun kemudian, Sneijder mengungkapkan bahwa rasa kecewa itu masih membekas.
Sneijder: “Ya, Itu Masih Membuat Saya Sedih”
Dalam wawancara terbaru dengan media WinWin, Sneijder ditanya apakah ia masih merasa sedih setiap kali orang mengungkit Ballon d’Or.
“Sejujurnya, ya, itu masih membuat saya sedih,” kata Sneijder. “Itu adalah tahun yang luar biasa bagi saya: juara Liga Champions, meraih gelar domestik, dan tampil di final Piala Dunia. Saya merasa sudah memberikan segalanya. Tapi Messi yang memenangkannya — dia memang pemain hebat. Namun, ketika orang-orang terus mengingat 2010, itu artinya mereka melihat apa yang sudah saya lakukan, dan itu yang paling penting.”

Saat ditanya apakah Ballon d’Or selalu diberikan kepada pemain terbaik, Sneijder menilai penghargaan tersebut juga dipengaruhi faktor lain seperti popularitas dan klub yang dibela.
“Tidak selalu. Kadang faktor popularitas atau klub tempat bermain juga berperan. Lihat saja Ribery di 2013, atau bahkan Lewandowski di 2020 — mereka juga layak menang,” tambahnya.
Ribery dan Lewandowski Juga Merasa Dirugikan
Pernyataan Sneijder itu menambah panjang daftar pemain yang merasa tidak adil karena gagal memenangkan Ballon d’Or, meski tampil luar biasa dalam satu musim.
Franck Ribery, yang bersinar bersama Bayern Munich pada 2013, pernah menyebut penghargaan tersebut “dipolitisasi”. Ia berkata: “Itu tidak adil. Musim saya luar biasa, dan saya seharusnya menang. Mereka memperpanjang masa pemungutan suara, dan ada hal aneh yang terjadi. Saya merasa itu adalah keputusan politik.”

Hal serupa juga dirasakan Robert Lewandowski. Penyerang asal Polandia itu tampil luar biasa pada 2020 dan diyakini sebagai kandidat kuat pemenang Ballon d’Or. Sayangnya, acara tersebut dibatalkan karena pandemi COVID-19.
Bahkan saat Messi mengaku bahwa Lewandowski pantas menang di tahun itu, sang striker justru menilai pernyataan Messi sebagai “kata-kata kosong”.
“Saya ingin itu [pernyataan Messi] menjadi ungkapan tulus dari seorang pemain hebat, bukan sekadar basa-basi,” ucap Lewandowski.
Ketegangan di antara keduanya bahkan sempat memanas saat mereka bertemu di laga internasional, meski akhirnya mereda.
Bukan yang Pertama, dan Bukan yang Terakhir
Sneijder, Ribery, dan Lewandowski memang sama-sama gagal mengangkat trofi Ballon d’Or, meski punya musim yang luar biasa. Namun mereka bukan satu-satunya pemain yang mengalami kekecewaan seperti itu — dan kemungkinan besar, bukan yang terakhir.
Bahkan bintang muda Real Madrid, Vinicius Junior, juga disebut-sebut layak meraih Ballon d’Or tahun lalu, namun pada akhirnya harus menerima nasib serupa.


