JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Dalam dunia sepak bola, tidak ada jalan pintas untuk melahirkan pemain hebat. Sejarah panjang sepak bola dunia membuktikan bahwa para legenda lahir dari proses panjang pembinaan usia muda yang terstruktur dan berjenjang.
Hal itu pula yang coba ditegaskan oleh pemerhati sepak bola yang akrab disapa Erwiyantoro atau mBah Coco. Ia menyoroti pentingnya sistem youth development sebagai fondasi utama dalam mencetak pemain profesional hingga level tim nasional.
Menurutnya, hampir seluruh pemain besar dunia seperti Lionel Messi, Neymar Jr, Pelé, hingga Diego Maradona, lahir dari kompetisi usia muda yang konsisten dan kompetitif.
“Tidak ada pemain besar yang muncul secara instan. Semua melalui pembinaan sejak usia dini dan jam terbang tinggi di kompetisi,” ujarnya di Markas Kandang Ayam,Rawamangun Jakarta Timur,Rabu(15/4)
Empat Nama, Empat Jejak Legend
mBah Coco kemudian membedah empat mantan pemain nasional Indonesia yang dinilai memiliki rekam jejak kuat dan layak disebut legenda karena lahir dari sistem pembinaan yang jelas.
1. Berti Tutuarima
Lahir di Jakarta pada 1957, Berti mengawali karier dari klub amatir MBFA sebelum bersinar bersama Persija di Piala Soeratin 1974. Kariernya menanjak hingga memperkuat timnas dan meraih medali perak SEA Games 1979.
2. Maman Suryaman
Berasal dari Bekasi, Maman memulai dari sepak bola antar kampung sebelum direkrut klub Galatama. Ia menjadi bagian penting timnas yang meraih emas SEA Games 1991.
3. Tias Tano Taufik
Putra Aceh ini ditempa melalui Diklat Salatiga dan Ragunan. Ia menjadi bagian generasi emas yang meraih prestasi di level Asia pelajar dan SEA Games 1987.
4. Patar Tambunan
Dibesarkan di Medan bersama Pardedetex, Patar menjadi pilar timnas era 1980-an dan turut membawa Indonesia meraih emas SEA Games 1987.

Kunci Utama: Kompetisi Berjenjang
Keempat pemain tersebut memiliki satu benang merah: mereka tumbuh melalui kompetisi usia muda yang berjenjang, mulai dari level daerah hingga nasional.
Dalam perkembangan sepak bola modern, pembinaan bahkan dimulai sejak usia 8–10 tahun. Klub-klub elite dunia berlomba mencari talenta sejak dini untuk dibentuk secara sistematis.
FIFA pun telah menyiapkan struktur kompetisi global mulai dari U-17 hingga U-23 sebagai jalur resmi menuju level senior.
Langkah Nyata: Liga Usia Muda Jakarta
Kesadaran akan pentingnya pembinaan ini mendorong mBah Coco dan rekan-rekannya membangun kompetisi usia muda di Jakarta.
Pada 2025, digelar Liga Jakarta U-17 yang diikuti 18 klub dengan sistem home and away. Hasilnya, 23 pemain berhasil direkrut klub profesional seperti Semen Padang FC, Barito Putera, dan Borneo FC.
Tahun 2026, kompetisi diperluas melalui Liga Soeratin U-15 dengan melibatkan 16 klub. Dalam proyek ini, empat legenda tadi dilibatkan sebagai tim pencari bakat (talent scouting).
Pesan Tegas: Tidak Ada Jalan Pintas
mBah Coco menegaskan, satu-satunya cara membangun tim nasional yang kuat adalah melalui pembinaan dan kompetisi yang konsisten.
“Kalau ingin punya pemain hebat, ya harus lewat kompetisi. Tidak ada cara instan,” pungkasnya.


