TERMINALNEWS.ID, NYON – Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) dikabarkan mengancam Presiden Federasi Sepakbola Internasional (FIFA), Gianni Infantino, dengan langkah hukum menyusul kontroversi rencana penjualan sebagian kepemilikan komersial turnamen Piala Dunia kepada investor swasta.
Sebelumnya, pada 28 Juli lalu terungkap bahwa FIFA di bawah kepemimpinan Infantino berencana menjual kepemilikan minoritas atas sejumlah turnamen besar, termasuk Piala Dunia putra dan putri, kepada investor eksternal. Melalui skema tersebut, FIFA disebut menargetkan pendanaan lebih dari US$20 miliar, atau sekitar Rp326 triliun (asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS).
Perusahaan modal ventura asal Amerika Serikat, Thrive Capital, yang dimiliki Joshua Kushner—adik ipar Donald Trump melalui Jared Kushner—disebut akan memimpin konsorsium investor. Namun, rencana tersebut langsung menuai gelombang kritik dari berbagai pihak di dunia sepak bola.
Dalam rapat darurat yang digelar 30 Juli, seluruh 55 asosiasi anggota UEFA dilaporkan sepakat akan memboikot Piala Dunia apabila FIFA tetap melanjutkan rencana tersebut.
Penolakan juga datang dari internal FIFA. Pada 31 Juli, penasihat senior Presiden FIFA, Carlos Cordeiro, mengundurkan diri. Ia menegaskan tidak dapat mendukung keputusan FIFA yang mempertimbangkan penjualan sebagian kepemilikan Piala Dunia.
Tak lama berselang, pada 1 Agustus dini hari, FIFA akhirnya mengonfirmasi bahwa rencana penjualan tersebut dibatalkan.
UEFA Kirim Surat Resmi
Meski FIFA telah membatalkan rencana tersebut, persoalan belum berakhir. Menurut laporan The Telegraph, UEFA telah mengirim surat resmi kepada Gianni Infantino pada Jumat yang berisi pemberitahuan bahwa konfederasi sepak bola Eropa itu tengah mempertimbangkan berbagai langkah hukum.
Dalam surat tersebut, UEFA menyatakan sedang mengkaji kemungkinan mengajukan gugatan hukum, arbitrase, maupun pengaduan kepada regulator terkait rencana yang diajukan FIFA.
UEFA juga meminta Infantino dan FIFA segera mengidentifikasi, menemukan, serta mengamankan seluruh dokumen dan data elektronik yang berkaitan dengan rencana penjualan tersebut. Kewajiban itu disebut berlaku terlepas dari kebijakan internal FIFA mengenai penyimpanan atau penghapusan dokumen.
Selain itu, UEFA menegaskan bahwa konfederasi, asosiasi anggota FIFA, dan berbagai pemangku kepentingan sepak bola telah mengecam rencana tersebut karena dinilai bertentangan dengan prinsip tata kelola sepak bola yang baik.
Peringatan Penghapusan Bukti
Dalam suratnya, UEFA juga memperingatkan agar tidak ada dokumen atau bukti yang dimusnahkan, dihapus, diubah, disembunyikan, maupun dihilangkan setelah pemberitahuan tersebut diterima.
UEFA menilai tindakan semacam itu dapat dikategorikan sebagai spoliation of evidence atau perusakan barang bukti, yang berpotensi memengaruhi proses hukum. Jika hal tersebut terjadi, UEFA menyatakan berhak meminta pengadilan menjatuhkan berbagai sanksi, termasuk konsekuensi hukum dan pembebanan biaya kepada pihak yang bertanggung jawab.
Sebagai penutup, UEFA meminta Gianni Infantino memberikan tanggapan tertulis dalam waktu lima hari kerja. Dalam balasannya, FIFA diminta mengonfirmasi bahwa pemberitahuan telah diterima dan dipahami, langkah pengamanan dokumen telah dilakukan, menunjuk pejabat yang bertanggung jawab atas kepatuhan terhadap permintaan tersebut, serta mengungkapkan apabila ada dokumen relevan yang sebelumnya telah dihapus atau dimusnahkan beserta rinciannya.
Kasus ini semakin menambah tekanan terhadap Gianni Infantino, meski FIFA telah memutuskan untuk membatalkan rencana kontroversial penjualan sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia.

