OLEH: Nabil M. Salim
TIGA TANGGAL, Tiga negara. Ratusan nyawa. Heysel 1985, Hillsborough 1989, Kanjuruhan 2022.
Tempatnya beda, penyebabnya beda, tapi lukanya sama: sepak bola yang seharusnya jadi pesta, berubah jadi perpisahan terakhir. Ini adalah dua surat untuk mengingatkan kita, agar angka itu berhenti di sini.
Sepak bola itu tentang gol menit 90+3, tentang sorakan satu stadion, tentang pelukan dengan orang asing karena tim kita menang.
Tapi ada tanggal-tanggal yang membuat kita diam. Bukan karena kalah. Tapi karena kehilangan.
39 di Brussels. 96 di Sheffield. 135 di Malang
Bukan skor. Itu nama. Itu anak. Itu ayah. Itu mimpi yang dipotong di tempat yang harusnya paling aman: stadion.
Surat Pertama: Dari Turin untuk Keluarga 39 Korban Heysel
Turin, 29 Mei
Kepada keluarga yang kami cintai,
Tahun berlalu. Tapi bagi kami rasanya baru kemarin.
29 Mei 1985 di Stadion Heysel, Brussels. Malam final Piala Champions Juventus vs Liverpool.
Yang kami harapkan adalah pesta. Yang datang adalah tembok yang ambruk dan 39 peti jenazah. 32 di antaranya memakai warna hitam-putih kami.
Kami masih mengulang kalimat yang sama setiap tahun: “A wound that continues to hurt.”
Luka yang terus menyakitkan.
Kami minta maaf. Malam itu sepak bola gagal melindungi kalian.
Tapi kami berjanji: selama Juventus masih berdiri, nama kalian akan kami sebut. Di museum kami, di buku sejarah kami, di setiap 29 Mei.
Karena Heysel bukan tentang kemenangan 1-0 lewat penalti Platini.
Heysel tentang kalian. Tentang ibu, ayah, anak yang seharusnya pulang dengan cerita indah, bukan dengan duka.
We will never forget.
Keluarga Besar Juventus
Surat Kedua: Dari Malang untuk 135 Saudara Kanjuruhan
Malang, 1 Oktober
Untuk 135 cahaya yang padam terlalu cepat,
Maaf ya.
Maaf karena kami berjanji “nanti pulang bareng ya”.
Tapi malam itu stadion yang harusnya jadi rumah kedua, berubah jadi tempat paling menakutkan.
Ada yang masih SMA. Ada yang menggandeng adiknya. Ada yang baru pertama kali nonton langsung.
Kalian pergi bukan karena skor. Kalian pergi karena panik, karena sesak, karena pintu.
Sampai sekarang menit ke-17 masih kami sunyikan di Kanjuruhan.
Sampai sekarang setiap peluit akhir masih membuat dada kami sesak.
Kami tidak berjanji bisa melupakan.
Kami berjanji akan berubah. Berjanji menjaga satu sama lain.
Agar tidak ada lagi ibu yang menangis di gerbang stadion.
Agar sepak bola kembali jadi tempat kita pulang dengan senyum.
“Kami tidak akan melupakan. Kami akan berubah.”
Dari kami, Saudaramu Aremania & Pecinta Sepak Bola Indonesia
Benang Merah dari Tiga Tragedi
Tragedi Tanggal Korban Meninggal Pelajaran Paling Mahal
*Heysel, Belgia* 29 Mei 1985 Keamanan tribun dan bahaya hooliganisme
*Hillsborough, Inggris* 15 April 1989 Tata kelola stadion dan jangan pernah salahkan korban.
*Kanjuruhan, Indonesia* 1 Oktober 2022. Standar FIFA, SOP pengamanan, larangan gas air mata di tribun

Penyebabnya berbeda. Tapi akarnya sama: saat nyawa manusia dikalahkan oleh ego, oleh “pertandingan harus tetap jalan”, oleh kelalaian.
Semoga 39, 96, 135 jadi angka terakhir.
Semoga anak cucu kita hanya mengenal nama-nama ini dari buku sejarah. Bukan dari pengalaman.
Semoga setelah ini stadion kembali jadi tempat kita menangis karena gol, bukan karena kehilangan.
Karena sepak bola tanpa penonton yang pulang dengan selamat… bukan sepak bola.
Catatan Editor:
Artikel ini ditulis untuk mengenang dan menghormati seluruh korban tragedi sepak bola. Tidak ada maksud menyalahkan satu pihak. Tujuannya satu: agar tidak terulang
*Nabil M. Salim, Pengamat sepakbola

Editor: Tommy R.Arief

