AFC Cu U-23 Qatar
INDONESIA U-23 LAHIRKAN THE DREAM TEAM, Dan LOLOS KE OLIMPIADE PERANCIS
Oleh : mBah Coco
ADA BANYAK CONTOH, ketika negara anggota FIFA, atau juga sebuah klub ujug-ujug bisa melahirkan, yang namanya The Dream Team. mBah Coco, memberi apresiasi 1000% penampilan Marselino Ferdinan dan kawan-kawan, yang mampu nge-klik satu sama lainnya. Sehingga, nongol tercipta sepak bola indah, sepak bola cantik, dan sepak bola hiburan.
Shin Tae-yong, yang dihujani kritik dan juga pujian di Tanah Air, membangun pelan-pelan sebuah The Dream Team, yang enak ditonton, enak dijadikan referensi, dan tentunya membuat penggila sepak bola Indonesia, dibuat berdebar jantungnya, setiap pasukan Indonesia, tampil di event internasional, di awal 2024.
Ada secerah harapan, bagi pencinta sepak bola nasional, melihat gaya, cara dan karakter sepak bola, yang pernah nongol sebagai karakter permainan sepak bola Indonesia, nongol lewat bola-bola pendek, yang pernah dilakukan era Wiel Coerver, sebagai pelatih nasional Indonesia 1975 – 1976.
Jika di jaman arsitek Coerver, bisa mencetak trio gelandang elegan dari Junaidi Abdillah, Anjas Asmara, Nobon dan ISwadi Idris. Maka, di jaman Shin tae-yong, juga lahir trio gelandang elegan, menakutkan, serta haus gol.
Kombinasi trio Marselino Ferdinan, Witan Sulaeman dan Rafael Struick, selalu mengancam gawang Qatar, Australia, Yordania, dan yang terakhir “membunuh” Korea Selatan, keluar dari tradisi lolos Olimpiade dalam 40 tahun terakhir.
mBah Coco, juga melihat gerakan kombinasi “trio anyar” Pranata Arhan, Nathan Tjoe-A-On dan Komang Teguh atau Ivar Jenner. Sehingga, melahirkan playmaker yang mampu mengawal lini tengah Indonesia U-23.
Ada satu kekuatan, sebuah tim kesebelasan, bisa meraih prestasi setinggi langit. Jika, memiliki lebih dari satu orang pengatur serangan. Dan, kini The Dream Team Indonesia U-23, memiliki tiga pemain pengatur serangan, versi mBah Coco, punya intelegensi di atas rata-rata, pada karakter Nathan Tjoe-A-On, Ivar Jenner dan Marselino Ferdinan, dan kadang-kadang salah satu dari Pratama Arhan atau Komang Teguh, mampu ujug-ujug sebagai pengatur serangan.
Masih ingat tim Perancis, saat juara Piala Eropa 1984, yang menurut mBah Coco, memulai dengan gaya taktik strategi, punya empat pemain di lini tengah, yang mampu berperan sebagai pengatur serangan.
Jean Tigana, sebagai destroyer. Alain Giresse sebagai pemain angkor, Michael Platini sebagai playmaker flamboyan, dan Luiz Fernandez, sebagai gelandang sayap. Dan, keempat playmaker inilah, yang membuat Perancis juara EURO 1984.
Ada The Dream Team yang memiliki kecerdasan bareng dalam membangun tim. Namun, gagal meraih gelar. Padahal, gelandang penyerangnya yahud-yahud.
Misalkan, Belanda 1974, Wim Jansen, Johan Neeskens, Willem Van Hanegem, dan Johnny Rep. Atau, juga ada The Dream Team, dalam tim nasional Portugal, yang memiliki kwartet gelandang yahud, seperti saat meraih gelar juara World Cup Youth Champions (U-21) 1991, Luis Figo, Rui Costa, Joao Pinto dan Fernando Cuoto. Namun, hingga mereka gantung sepatu, gagal bersinar mencetak juara.
Dalam format klub, Manchester United, pernah mencetak young guns, dalam sosok David Beckham, Paul Scholes, Nicky Butt, Ryan Giggs, dan dua kakak beradik Gary dan Phil Neville, dan membuahkan treble trophy, Juara Liga Inggris, FA Cup dan Champions League 1998-99.
Cerita-cerita pendek, The Dream Team, sebetulnya masih menyisakan kwartet atau trio plamaker, yang sangat indah, tapi gagal menjadi jawara. Ketika, Brasil di Worlld Cup 1982, menurunkan Socrates, Eder, Falcao dan Dirceu, bersama ujung tombaknya, Zico. Nyaris, semua penduduk dunia, konsentrasi untuk nonton Brasil 1982. Namun, gagal melaju ke semifinal dan final.
Khusus Indonesia U-23, ada kelebihan yang dominan dalam karakter pasukan STY, sejak di babak penyisihan Grup A, bersama tuan rumah Qatar, Australia dan Yordania. Yaitu, memainkan karakter dan bentuk tim nasional Indonesia, selama ini. Yaitu, memainkan bola-bola pendek, memaksimalkan lebar lapangan, dan memiliki trio kerjasama, lewat serangan balik yang mematikan. Ditambah, fisik stamina memadai bermain 90 atau bahkan 120 menit.
Dalam sebuah turnamen besar di level internasional, ada jejak sejarah, ketika tim vini vidi vici, seperti tim nasional Yunani, mengobrak-abrik peta sepak bola Eropa, dengan juara EURO 2004, di kandang Portugal, yang memiliki The Dream Team, justru tumbang ditangan pendatang baru.
Versi mBah Coco, dalam sebuah turnamen raksasa, ada empat (4) hal yang wajib dipertahankan untuk meraih prestasi puncak. 1. Mental bertanding stabil. 2. Tidak mengubah formasi terbaiknya. 3. Stamina fisik turnamen wajib dijaga. 4. Fokus dalam pertandingan sepanjang 90 menit.
Dari empat poin di atas, menurut mBah Coco, Indonesia U-23, sudah memenuhi syarat-syarat yang mendekati puncak prestasi.
Kesimpulannya, Indonesia U-23, bukan mendahului sang pencipta, akan lolos ke Olimpiade, untuk cabang sepak bola, 26 Juli – 10 Agustus 2024, di Perancis.
PREDIKSI mBah Coco
Jika, Indonesia U-23 juara AFC Cup U-23, bergabung Grup D, bersama Portugal (Eropa), Mali (Afrika) dan Israel (Eropa).
Jika, Indonesia runner up AFC Cup U-23, bergabung Grup C, menghadapi Spanyol (Eropa), Mesir (Afrika), dan Republik Dominika (Amerika Utara).
Jika Indonesia meraih gelar ke-3 AFC Cup U-23, bergabung Grup B, menghadapi Argentina (Amerika Selatan), Maroko (Afrika) dan Ukraina (Eropa).
Jika Indonesia ternyata menang atas play-off wakil Afrika, bergabung Grup A, bersama Perancis (Eropa), Amerika Serikat (Amerika Utara) dan Selandia Baru (Asia Pasifik Oceania).
SARAN mBah Coco
Sangat dilematis, jika The Dream Team Indonesia U-23, justru ingin juara AFC Cup U-23. Pasalnya, dipastikan masuk grup bersama Israel. Bijimane sikap politik luar negeri Indonesia?

