SOLOK,TERMINALNEWS.ID Kebakaran lahan kopi di Nagari Paninjauan, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada pertengahan tahun 2025, membuat sebagian petani tak bisa menikmati hasil maksimal dari panen perdana yang ditanam secara masif dan tertata sejak 2 tahun terakhir.
Menghadapi tantangan tersebut, sejumlah akademisi dari Politeknik Aisiyah Sumatera Barat bekerjasama dengan Universitas Putra Indonesia YPTK Padang, melakukan Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan skema kemitraan masyarakat. Mendapat dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, pengabdian ini bermitra dengan Kelompok Pengelola Hutan Pangan Nagari Paninjauan, yang bertema “Pemulihan Kapasitas Produksi Kopi” paska kebakaran lahan, melalaui hilirisasi kewirausahaan.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Muharika Dewi, S.TT., M.Pd.T, mengungkapkan, kebakaran lahan menyebabkan sebagian petani kehilangan potensi hasil panen, yang diperkirakan akan memasuki masa panen raya pada akhir tahun 2026. Pakar kewirausahaan ini menyebutkan, solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mempertahankan mutu hasil panen, sehingga petani tetap mendapatkan keuntungan maksimal.
“Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh jumlah panen, melainkan juga kualitas hasil mulai dari pengolahan pasca panen. Karena itu kami mendampingi petani mulai dari teknik panen, pengeringan, pengupasan hingga proses grading agar kopi Paninjauan mampu bersaing di pasar premium,” ujarnya.
Minggu, 19 Juli 2026, para akademisi dari lintas Perguruan Tinggi ini melakukan pelatihan tehadap para petani kopi di Jorong Kubu, Nagari Paninjauan, Kecamatan Sepuluh Koto Diatas, Kabupaten Solok. Pelatihan yang dilakukan adalah cara pemilihan chery kopi terbaik, penjemuran di greenhouse yang disediakan dalam program PKM, serta grading, atau pemilihan greenbean terbaik sebelum di roasting.
“Kita hanya bisa mendapatkan harga terbaik, jika memberikan buah terbaik kepada calon pembeli,” kata Muharika, kepada petani wanita yang hadir dalam pelatihan.
Saat ini sebanyak 25 petani tergabung dalam Kelompok Hutan Pangan mengembangkan kopi robusta pada 56 titik lahan yang mulai ditanam sejak akhir tahun 2023 di delapan jorong berbeda di Nagari Paninjauan, dengan sistem agroforestri.
Selain mendapatkan greenhouse untuk penjemuran, Kelompok Pengelola Hutan Pangan sebagai mitra, memperoleh bantuan mesin huller untuk mengupas kulit kopi kering, alat pengukur kadar air, serta timbangan digital guna mendukung proses produksi yang lebih efisien dan sesuai standar mutu.
Burhan Ali Dt. Bagindo Khatib, menyebut pendampingan pelatihan serta bantuan yang diberikan para akademisi dari Perguruan Tinggi, memberikan harapan baru bagi para petani, setelah menghadapi berbagai tantangan selama beberapa tahun terakhir.
“Selama ini petani berjuang membangun kembali kebun kopi setelah mengalami kekeringan dan kebakaran. Dengan adanya pendampingan teknologi serta bantuan peralatan, kami optimistis kualitas kopi Paninjauan akan semakin baik dan mampu meningkatkan pendapatan petani,” katanya.
Program pengabdian ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus upaya memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Kegiatan ini disambut antusias oleh aparatur Nagari Paninjauan, para pemangku adat dan para petani kopi. Dengan dukungan teknologi tepat guna dan peningkatan kapasitas petani, Kopi Robusta Paninjauan diharapkan berkembang menjadi komoditas unggulan dan merek dagang yang mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional.


