JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Pembukaan ruang publik baru kerap disambut antusias. Ia menjadi simbol akses, rekreasi, sekaligus jeda dari hiruk-pikuk kota. Namun, euforia itu kerap menyisakan persoalan klasik: sampah yang berserakan. Apa yang terjadi di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, memperlihatkan bahwa persoalan kebersihan bukan semata soal fasilitas, melainkan cermin perilaku kolektif.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, telah bergerak cepat merespons keluhan warga. Tempat sampah tersedia, petugas lapangan disiagakan, papan imbauan dipasang, bahkan penambahan sarana kebersihan tengah disiapkan. Semua ini menunjukkan bahwa negara hadir dan bekerja.
Namun, sebagaimana diingatkan Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, M. Fajar Sauri, keberhasilan menjaga kebersihan tidak bisa sepenuhnya ditopang oleh negara. Ada batas di mana peran pemerintah berhenti, dan kesadaran warga seharusnya mulai bekerja.
Di titik inilah persoalan sesungguhnya muncul. Ruang publik adalah ruang bersama, tetapi kesadaran publik sering kali masih bersifat privat sebatas kepentingan diri sendiri. Banyak yang menikmati taman, tetapi tidak merasa memiliki. Banyak yang memanfaatkan fasilitas, tetapi enggan merawatnya.
Fenomena ini bukan hal baru. Ia berulang dari satu taman ke taman lain, dari satu kota ke kota lain. Kita kerap lebih cepat menuntut hak atas ruang publik ketimbang menjalankan kewajiban menjaganya. Padahal, kebersihan adalah kontrak sosial paling sederhana: tidak membuang beban kita kepada orang lain.

Langkah penambahan fasilitas, pengawasan PJLP, hingga koordinasi lintas dinas tentu patut diapresiasi. Namun, semua itu hanya akan menjadi tambalan jika tidak diiringi perubahan perilaku. Edukasi menjadi kunci, terutama dalam menanamkan kebiasaan sejak dini bahwa ruang publik bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang tanggung jawab bersama.
Taman Bendera Pusaka kini menjadi lebih dari sekadar ruang hijau baru. Ia adalah cermin kecil tentang bagaimana masyarakat kota memperlakukan ruang bersama. Apakah kita siap naik kelas sebagai warga kota, atau tetap terjebak pada kebiasaan lama?
Pada akhirnya, kebersihan bukan soal ada atau tidaknya tempat sampah. Ia adalah soal kesadaran yang, sayangnya, belum selalu hadir di setiap langkah kita.


