INDRAMAYU,TERMINALNEWS.ID – Pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Al-Zaytun, Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, memperingati hari lahirnya yang ke-79 dengan cara yang tidak biasa. Dalam acara bertajuk “Bincang Bersama Manifestasi Doa” yang digelar di kompleks pesantren, Rabu (30/7/2025), ia membacakan sebuah puisi berjudul “Petisi untuk Negeri”.
Puisi tersebut menjadi bentuk refleksi sekaligus seruan moral terhadap arah pembangunan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan. Syaykh Panji menyampaikan bahwa pembangunan karakter generasi muda seharusnya mendapat perhatian yang sama seriusnya dengan pembangunan infrastruktur.
“Kami tidak meminta istana, kami hanya berharap asrama,” ucapnya, menggarisbawahi pentingnya penyediaan fasilitas dasar bagi pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.
Seruan Moral Lewat Puisi
Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri sejumlah tokoh lintas iman dan budaya, antara lain Ketua Umum PEWARNA Indonesia Yusuf Mujiono, Ketua Umum Asosiasi Pendeta Indonesia Pdt. Harsanto Adhi, serta Eddie Karsito, budayawan dari Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan.
Dalam puisinya, Syaykh Panji menekankan bahwa pendidikan tidak hanya soal capaian akademik, tetapi tentang pembentukan nilai dan karakter. Ia menyebut bahwa banyak pesantren saat ini masih kekurangan fasilitas seperti asrama yang layak, meskipun berperan penting dalam pembinaan generasi muda.
“Pendidikan bukan sekadar soal nilai rapor, tapi lantai jiwa—tempat karakter ditumbuhkan,” ujarnya.
Harapan Menuju Indonesia Emas 2045
Syaykh Panji juga menyampaikan pandangannya terkait visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, cita-cita itu harus dibangun dari kesadaran kolektif untuk menanamkan nilai-nilai luhur sejak dini. Ia menekankan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan fisik, tetapi juga pada keseimbangan mental, moral, dan spiritual.
“Indonesia tidak akan kuat, jika anak-anaknya kehilangan arah,” katanya dalam penutup puisinya, yang disambut tepuk tangan para hadirin.
Pendidikan sebagai Pilar Bangsa
Menurut Eddie Karsito, salah satu tamu undangan, pendidikan berbasis nilai dan spiritualitas sangat penting untuk menghadapi tantangan zaman, termasuk kemajuan teknologi informasi yang membawa dampak pada perilaku generasi muda.
“Kita tidak bisa hanya mengejar pembangunan material. Tanpa pembangunan jiwa dan nilai, bangsa ini akan rapuh,” ujarnya.
Perayaan Milad ke-79 Syaykh Panji menjadi lebih dari sekadar momen pribadi. Ia menjadikannya sarana untuk menyerukan kembali pentingnya pendidikan yang memanusiakan manusia—sebuah suara dari pesantren untuk Indonesia yang lebih inklusif, beradab, dan berkarakter.

