SURABAYA,TERMINALNEWS.ID -| Meskipun Hujan mengguyur sangat deras di Teras Dewan Kesenian Surabaya malam itu, Senin (10/11). Namun di balik tirai air yang menuruni kota, dentuman drum dan petikan gitar menggema, menyalakan semangat yang tak mau padam. Dari panggung kecil bertuliskan “Surabaya Hari Ini#5”, Sastra Harijanto Tjondrokusumo bersama Miracle Band membuktikan: musik bisa jadi suluh kebangsaan.
Begitu lagu pembuka “Bhineka Tunggal Ika” dimainkan, suasana berubah. Aransemen rock progresif yang tegas berpadu dengan lirik-lirik tentang keberagaman, seolah mengingatkan semua orang yang berteduh di bawah tenda: Indonesia hidup dari perbedaan, dan semangat itu tak boleh redup.
“Kalau tampil di Hari Pahlawan, itu kehormatan tersendiri,” ujar Sastra usai penampilan. “Mudah-mudahan ini bukan yang pertama dan terakhir.”tambahnya penuh semangat.
Nada-nada berikutnya seperti “Indonesia Satu” dan “Berjalan Bersama” mengalir tanpa jeda panjang. Ada kejujuran dalam setiap petikan gitar dan keberanian dalam setiap teriakan vokal. Musik mereka bukan sekadar hiburan, tapi pernyataan — bahwa persatuan bisa disuarakan lewat frekuensi yang keras sekalipun.

Menariknya, tak satu pun penonton mundur meski hujan terus turun. Di antara genangan air dan udara lembab, orang-orang justru semakin dekat ke panggung, bertepuk tangan dan bernyanyi bersama.
“Hujan tidak melunturkan semangat kita!” seru Sastra, dan gemuruh tepuk tangan menjawabnya.
Bagi Sastra, malam itu bukan hanya panggung pertunjukan. Ia memaknainya sebagai ruang pesan sosial.
“Generasi muda harus belajar dan mempersiapkan diri memegang kendali negeri ini. Kita butuh pemimpin yang nasionalis dan berpikir waras,” katanya lantang.
Konser “Surabaya Hari Ini#5” mungkin kecil secara skala, tapi besar dalam makna. Dari jantung kota pahlawan, musik kembali menjadi bahasa perjuangan — bukan dengan senjata, melainkan dengan irama dan kata.|Foto : Istimewa


