MILAN, TERMINALNEWS.ID – Pertandingan leg kedua semifinal Liga Champions antara Inter Milan dan Barcelona berlangsung dramatis pada Selasa (waktu setempat), dengan gol penyeimbang di menit akhir dari Francesco Acerbi yang memaksa laga dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.
Kedua tim datang ke leg kedua dengan agregat imbang 3-3 setelah duel sengit pekan lalu di Camp Nou. Pada laga kali ini, Inter Milan tampil agresif sejak awal dan unggul lebih dulu lewat gol Lautaro Martínez di menit ke-21. Menjelang turun minum, Hakan Calhanoglu menggandakan keunggulan lewat titik penalti.
https://x.com/CBSSportsGolazo/status/1919866386966302950
Namun Barcelona tak tinggal diam. Eric Garcia dan Dani Olmo mencetak gol balasan yang membuat skor imbang 2-2 dan agregat menjadi 5-5. Harapan Barcelona sempat membuncah saat Raphinha mencetak gol pada menit ke-87, memberikan keunggulan 6-5 secara agregat.
Drama belum berakhir. Di menit ke-94, Francesco Acerbi—bek veteran berusia 37 tahun—mencetak gol penyeimbang yang luar biasa dan mengubah skor menjadi 3-3. Gol ini membuat agregat menjadi 6-6 dan laga harus dilanjutkan ke babak tambahan.

Reaksi dari panel pundit CBS Sports pun viral di media sosial. Jamie Carragher, Thierry Henry, dan Micah Richards tampak tak percaya dengan kejadian tersebut. Henry bahkan bertanya dengan nada heran, “Apa yang dilakukan Acerbi di sana?”
Ketegangan terus berlanjut di perpanjangan waktu. Inter Milan akhirnya mengunci kemenangan lewat gol Davide Frattesi yang mengubah skor menjadi 4-3 (agregat 7-6), membawa Nerazzurri ke final Liga Champions di Munich. Mereka akan menghadapi pemenang antara Arsenal dan Paris Saint-Germain.
Usai pertandingan, bek kanan Inter Matteo Darmian berkata kepada Prime: “Saya tidak tahu kenapa Acerbi ada di sana, tapi dia berada di posisi yang tepat pada saat yang tepat.”
Kapten Inter, Lautaro Martínez, menyampaikan rasa bangganya:
“Saya sangat bahagia dan bangga dengan Inter Milan. Saya berterima kasih kepada para fans dan keluarga yang hadir hari ini. Saya tidak berada dalam kondisi terbaik, tapi tim medis bekerja keras agar saya bisa bermain. Kami hanya selangkah lagi. Kami ingin memenangkan final dan mengangkat Inter ke puncak Eropa.”

Sementara itu, pelatih Barcelona Hansi Flick mengaku kecewa tersingkir, namun tetap bangga dengan performa anak asuhnya.
“Saya kecewa karena kami harus tersingkir, tapi tidak kecewa dengan performa tim. Kami mencoba segalanya. Inter tim yang kuat, punya pertahanan solid dan striker hebat. Di babak kedua kami tampil bagus, tapi setiap keputusan 50:50 tampaknya menguntungkan mereka. Kami sudah memberikan segalanya.”


