TERMINALNEWS.ID, BEKASI – Ketua Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Eddie Karsito dalam keterangannya yang disampaikan di Bekasi, Sabtu (4/7/2026) mengaku bersyukur dengan respon pemerintah kota dalam hal ini Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kota Bekasi yang memasukkan Hanan, 68 tahun, yang hidup dalam kondisi memprihatinkan di sebuah gubuk sederhana di Kampung Kranggan, RT 002/RW 009, Kelurahan Jatisampurna, Kota Bekasi. ke rumah sakit Rumah sakit Jatisampurna.
“Sekarang sudah melakukan rawat inap,” ungkap Eddie Karsito, Senin (6/7/2026).
Dikatakan Eddie Karsito, besok, Selasa (7/7/2026) ia masih harus koordinasi lagi ke Dinas Sosial Kota Bekasi konsultasi apakah yang bersangkutan akan kita rawat jalan tetap tinggal bersama keluarganya atau akan kita masukkan ke panti sosial rehabilitasi odgj
“Mengingat pasiennya setelah diperiksa tadi penjelasan dari dokter psikolog kategorinya masih proaktif sehingga masih aman di rawat jalan dan diberi obat,” tutur Eddie Karsito.

Seperti diketahui, Hanan tidak pernah memiliki dokumen kependudukan seperti Kartu Keluarga (KK) maupun Kartu Tanda Penduduk (KTP). Hal itu terjadi karena ia telah mengalami gangguan jiwa sejak berusia sekitar 15 tahun.
“Usia Hanan diperkirakan sekitar 68 tahun dengan mengacu pada usia saudara sepupunya, Mak Niah binti Sain, yang kini berusia 67 tahun,” ujar Eddie Karsito.
Kedua orang tua Hanan telah meninggal dunia. Sehari-hari, ia dirawat oleh Mak Niah bersama keluarganya yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Mereka tinggal di sebuah bedeng atau gubuk yang kondisinya jauh dari kata layak sebagai tempat tinggal.
“Karena kondisi kejiwaannya, Hanan terpaksa dirantai atau dipasung untuk mencegah dirinya mengamuk maupun melarikan diri. Keluarga mengaku langkah tersebut dilakukan sebagai upaya terakhir demi keselamatan Hanan dan warga sekitar,” kata Eddie Karsito.
Keterbatasan ekonomi diakui Eddie Karsito menjadi kendala utama. Mak Niah yang hanya bekerja sebagai pemulung mengaku tidak memiliki biaya untuk membawa Hanan menjalani pengobatan maupun perawatan yang semestinya.

“Akibatnya, hingga kini Hanan tidak memiliki pilihan lain selain tinggal di gubuk yang kotor dan kumuh, tanpa akses terhadap penanganan kesehatan jiwa yang memadai,” tutur Eddie Karsito.
Untuk itu, Eddie Karsito berharap kisah Hanan dapat menjadi perhatian berbagai pihak agar pria lansia tersebut memperoleh bantuan, baik berupa layanan kesehatan, administrasi kependudukan, maupun tempat tinggal yang lebih layak.


