Laporan wartawan Terminalnews.id/Jef Sukapura
TERMINALNEWS.ID, BOGOR – Para pelanggan air minum Perumda Tirta Kahuripan Leuwiliang di Kampung Moyan, Kampung Lalamping, Kampung Cisasak, Kampung Sinarjaya, Kampung Mangir dan Kampung Dukuh yang berada ditiga desa, diantaranya Desa Galuga, Desa Dukuh, Desa Cijujung, di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, semua berteriak, lantaran aliran air minum Perumda Tirta Kahuripan Leuwiliang yang mengalir kerumah mereka sejak dua hari, yaitu hari Selasa (08/09/2026) hingga Rabu Malam (09/09/2025), mati, tidak setetespun mengalir.
Karuan saja, begitu pelanggan mengetahui pipa yang mengalirkan air bersih dari Instalasi air minum Perumda Tirta Kahuripan Leuwiliang kerumah mereka diputus paksa, yang ternyata untuk pengisian puluhan Tangki mobil Pemadam Kebakaran (Damkar) guna keperluan pemadaman api TPA Sampah Galuga yang kebakaran selama dua hari berturut turut itu, pelanggan mengaku dikorbankan.
“Saat mendapat informasi dari tetangga, kalau pipa saluran air bersih kerumah kami dari Instalasi PDAM Leuwiliang di Galuga diputus oleh petugas katanya untuk mengisi belasan Tangki Mobil Damkar, Tangki BPBD untuk keperluan pemadaman TPA Galuga yang kebakaran dihari Senin lalu (7/9/2026), kami langsung mendatangi kelokasi, nah pertanyaannya, kenapa kami pelanggan yang dikorbankan, itukan air bersih untuk minum kami, kami rajin bayar kok,” gusar Dandi (bukan nama asli, identitas nara sumber dirahasiakan), salah satu pelanggan Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Leuwiliang warga Desa Dukuh, kepada TerminalNews.id di kediamannya, Rabu Malam (09/09/2025).
Dandi mengeluhkan, dimana dalam kondisi kemarau panjang saat ini, air merupakan kebutuhan paling utama bagi manusia, khususnya bagi kebutuhan rumah tangga sehari hari, kok malah diabaikan oleh Perumda Tirta Kahuripan. Sehingga Dandi menduga sebanyak 1 juta liter air bersih yang seharusnya jadi hak pelanggan, malah dibuang buang begitu saja.
“Padahal itu kan air bersih buat keperluan air minum, untuk mandi dan untuk masak dirumah kami, seharusnya Damkar Kabupaten, BPBD kabupaten maupun kota, mengambil air bagi keperluan pemadaman api di TPA Galuga, ya dari Sungai Cianteun, bukan dari hak pelanggan yang dikorbankan,” geramnya.
Dandi mengaku, ia dan pelanggan lainnya sempat mendatangi kantor Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Cabang Leuwiliang untuk mempertanyakan hak pelanggan, tapi beberapa petugas yang ada dikantor cabang Leuwiliang yang ditemui, satupun dari mereka tak ada yang bisa memberi jawaban.
“Mereka hanya menjawab pemutusan aliran air bersih ke rumah saya dan kerumah pelanggan lain di desa dukuh, adalah perintah pimpinan, yaitu untuk keperluan Truk Tangki bagi Pemadaman Kebakaran. Lalu saya bertanya, Siapa yang beri Perintah ?, kok zholim amat, memangnya air bersih yang sudah melalui proses Penjernihan, segampang itu untuk pemadaman kebakaran TPA Sampah Galuga ?, itu kan air minum buat kebutuhan hidup manusia,” cercanya emosi.
Dandi mewakili pelanggan lain yang ada di Tiga desa mengancam, apabila pemadaman ini masih terus berlarut larut, dan pelanggan yang selalu saja dikorbankan.

“Maka Kami akan menggelar aksi demo besar besaran ke Kantor Bupati Bogor dan Kantor Perumda Air Minum Tirta Kahuripan di Cibinong, sekali lagi agar diketahui, kami bukan mengancam, tapi Air bersih itu adalah hak kami, hak para pelanggan,” ancamnya.
Sementara dari pantauan TerminalNews.id dilapangan saat proses pemadaman berlangsung mulai hari Selasa pagi, siang hingga malam (08/09/2026), belasan truk tangki milik Damkar, Tangki BPBD Kabupaten Bogor dan Kota, semua hilir mudik mondar mandir mengisi air bersih untuk keperluan pemadaman TPA Galuga yang terbakar yang diambil dari Instlasi Kampung Geledug, di Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang.
Begitupun saat Terminalnews mendatangi kantor Cabang Air Minum Tirta Kahuripan Leuwiliang untuk mempertanyakan soal pemutusan saluran air bersih ke Desa Dukuh, Desa Galuga dan Desa Cijujung, yang diketahui untuk keperluan pemadaman TPA Sampah Galuga yang kebakaran, semua terdiam tak ada satupun yang menjawab.

