TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Di tengah kesibukannya sebagai Direktur Musik Kementerian Ekonomi Kreatif, Dr. Mohammad Amin, M.Sn., MA, yang juga dikenal dengan nama Amin Abdullah, memilih terjun langsung ke dapur rekaman. Ia meluncurkan single berjudul “Biarkan Ada Ruang di Antara Kita”, sebuah lagu yang ditulis sekaligus dinyanyikannya sendiri.
Bagi Amin, perilisan lagu tersebut bukan sekadar aktivitas berkarya atau menyalurkan hobi. Langkah ini menjadi bagian dari upayanya memahami secara langsung dinamika industri musik di era digital, mulai dari proses produksi, distribusi hingga strategi promosi.
Sebagai birokrat sekaligus akademisi, Amin selama ini aktif mengajar mata kuliah Kebudayaan dan Industri Kreatif di Universitas Indonesia, Sunway University Malaysia, serta Institut Kesenian Jakarta. Karena itu, pengalaman menjadi pelaku langsung di industri musik dinilai penting untuk memperkaya pemahamannya.
“Peluncuran lagu ini tentu saja bermaksud untuk praktik langsung pada industri musik agar mengetahui perkembangan terkini. Insya Allah juga akan berguna menambah wawasan saya sebagai birokrat dan akademisi,” ujar Amin.

Pesan untuk Para “BUCIN”
Tak hanya berbicara tentang pengalaman bermusik, lagu “Biarkan Ada Ruang di Antara Kita” juga membawa pesan tentang hubungan asmara. Amin mengingatkan para BUCIN (Budak Cinta) agar tidak menjadikan rasa cinta sebagai belenggu bagi pasangan.
Menurutnya, dalam sebuah hubungan, setiap individu tetap membutuhkan ruang untuk bernapas, berkembang, berkarya, dan menjadi dirinya sendiri.
“Sayang boleh, cinta wajib, tetapi jangan sampai menggenggam terlalu erat hingga pasangan kehilangan ruang untuk bernapas,” katanya.
Pesan tersebut menjadi salah satu warna yang ditawarkan Amin melalui single terbarunya. Cinta, menurut dia, tetap membutuhkan keseimbangan agar hubungan tidak berubah menjadi keterikatan yang justru membatasi kebebasan masing-masing.
Tantangan Promosi di Era Digital
Selain mengangkat tema percintaan, Amin juga melihat adanya tantangan besar dalam industri musik digital saat ini. Kemajuan teknologi memang membuat proses produksi dan distribusi musik menjadi semakin mudah dan murah.

Namun, kemudahan tersebut juga melahirkan persoalan baru, terutama dalam hal promosi. Jumlah karya musik yang masuk ke berbagai platform digital terus bertambah sehingga persaingan untuk mendapatkan perhatian pendengar semakin ketat.
“Biaya produksi lagu dalam zaman digital bisa lebih murah, namun justru biaya promosinya bisa besar sekali karena banyak sekali supply lagu dan mudah untuk masuk ke digital streaming platform,” jelasnya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Amin memperkenalkan konsep 3F: Friends, Family, Foes. Menurutnya, teman, keluarga, bahkan orang-orang yang selama ini dianggap sebagai “musuh” dapat menjadi bagian dari strategi memperkenalkan sebuah karya.
Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti membagikan lagu, mengunggahnya di media sosial, hingga membantu memperluas jangkauan promosi.
Hadir di Platform Nasional dan Global
Dalam proses distribusinya, “Biarkan Ada Ruang di Antara Kita” menggunakan agregator Langitku untuk mendukung distribusi ke Langit Musik, DSP nasional di bawah NUON.
Selain itu, lagu tersebut juga tersedia di sejumlah platform musik global, di antaranya Spotify, YouTube, dan Apple Music.
Bagi Amin, keterlibatannya secara langsung dalam produksi dan perilisan lagu memberikan pengalaman yang lebih nyata mengenai bagaimana sebuah karya musik bergerak di industri digital.
Ia tidak hanya ingin memahami industri dari sisi kebijakan dan akademis, tetapi juga merasakan langsung tantangan yang dihadapi para musisi dan kreator, khususnya dalam memproduksi, mendistribusikan, dan mempromosikan karya.

Melalui “Biarkan Ada Ruang di Antara Kita”, Amin sekaligus menyampaikan dua pesan. Dalam cinta, setiap orang membutuhkan ruang. Sementara dalam berkarya, sebuah karya membutuhkan strategi agar dapat ditemukan dan didengar oleh publik.
“Mohon doanya agar berkah dan amanah,” pungkasnya.

