JAKARTA,TERMINALNEWS.ID-| Euforia konser K-Pop tak pernah benar-benar berhenti di pintu keluar arena. Ia menjalar ke jalanan kota, ke gerbong kereta terakhir, hingga ke lobi-lobi hotel yang mendadak penuh oleh penggemar dengan lightstick masih menyala. Fenomena inilah yang dibaca Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) sebagai peluang sekaligus pekerjaan rumah: bagaimana memastikan gelombang penonton konser bisa pulang atau beristirahat dengan nyaman.
Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran menilai, selama ini konser besar berjalan seperti dua dunia yang terpisah. Promotor sibuk dengan panggung dan tiket, sementara sektor akomodasi menunggu limpahan tamu tanpa koordinasi yang jelas. Padahal, konser berskala internasional, terutama K-Pop, hampir selalu menciptakan migrasi mini para penggemar dari berbagai kota, bahkan negara.
“Kolaborasi bisa memudahkan penonton memperoleh paket informasi akomodasi dan akses menuju lokasi konser,” ujar Yusran di Jakarta, Jumat(20/2)
Bayangkan sebuah malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Puluhan ribu orang larut dalam nyanyian bersama, lalu serentak keluar membawa satu pertanyaan yang sama: pulang sekarang atau menginap saja? Tidak sedikit yang akhirnya memilih kamar hotel, sekadar untuk beristirahat sebelum kembali ke rutinitas.
Jakarta sebenarnya menawarkan jawaban yang cukup elegan. Dari kawasan Senayan, penonton bisa meluncur ke Blok M hanya dalam hitungan menit menggunakan MRT Jakarta atau melanjutkan perjalanan dengan Transjakarta. Kota ini, dengan segala hiruk-pikuknya, memiliki infrastruktur yang memungkinkan konser menjadi pengalaman wisata singkat bukan sekadar datang, menonton, lalu pulang kelelahan.
PHRI membayangkan sebuah skenario di mana tiket konser datang bersama rekomendasi penginapan, peta transportasi, hingga paket perjalanan. Sebuah pengalaman yang terasa utuh, terutama bagi penggemar yang datang demi menyaksikan idola seperti BTS. Ketika musik berhenti, kenyamanan seharusnya tidak ikut padam.
Pada akhirnya, konser bukan hanya tentang dentuman bass dan lautan suara penggemar. Ia juga tentang kota yang menjadi tuan rumah bagaimana kota itu menerima, merawat, dan melepas para tamunya dengan kesan yang ingin membuat mereka kembali.


