YOGYAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Gelombang dukungan terhadap pengusulan Sri Sultan Hamengku Buwono II sebagai Pahlawan Nasional terus menguat, melintasi batas generasi dan latar belakang. Dari ruang akademik hingga komunitas pelajar, suara yang sama digaungkan: negara perlu segera memberi pengakuan atas jejak perlawanan seorang raja yang memilih berdiri tegak di tengah tekanan kolonialisme.
Di Yogyakarta, dukungan itu tidak sekadar simbolik. Ia menjelma menjadi gerakan kolektif yang terartikulasikan dalam petisi, forum ilmiah, hingga pernyataan sikap lintas elemen. Budayawan, akademisi, dan trah keluarga kerajaan menyatu dalam satu narasi: bahwa Sultan HB II adalah representasi awal nasionalisme yang lahir dari keberanian menolak dominasi asing.
Sosok Sultan HB II bukan hanya pemimpin administratif kerajaan, melainkan figur yang menghidupkan etos resistensi. Dalam catatan sejarah, ia berkali-kali dilengserkan oleh kekuatan kolonial Belanda dan Inggris sebuah konsekuensi dari sikapnya yang menolak kompromi. Namun, justru dari titik itu, integritasnya menemukan makna paling utuh: kekuasaan bukan tujuan, melainkan alat untuk menjaga martabat bangsa.
Peristiwa Geger Sepehi menjadi salah satu penanda penting. Ketika Keraton Yogyakarta diserbu pada 1812, Sultan HB II tidak memilih mundur ke balik simbol kekuasaan, melainkan tampil sebagai pemimpin yang memobilisasi perlawanan. Dalam konteks ini, sejarah tidak hanya mencatat kekalahan militer, tetapi juga keberanian moral yang melampaui zamannya.
Penguatan argumentasi atas jasa Sultan HB II juga disusun melalui pendekatan hukum dan historiografi. Mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009, sejumlah kajian menilai seluruh kriteria Pahlawan Nasional telah terpenuhi mulai dari jasa luar biasa, kepemimpinan nyata, hingga integritas moral yang tidak tercela. Bahkan, pengakuan dari sejarawan internasional seperti Peter Carey dan M. C. Ricklefs memperkuat posisi Sultan HB II dalam lanskap sejarah global.
Menariknya, arus dukungan ini juga digerakkan oleh generasi muda. Komunitas literasi dan pelajar melihat nilai-nilai perjuangan Sultan HB II sebagai refleksi penting bagi masa kini bahwa nasionalisme bukan sekadar slogan, melainkan sikap tegas dalam menghadapi ketidakadilan. Di tengah arus globalisasi, figur seperti Sultan HB II menjadi jangkar identitas yang mengingatkan bangsa pada akar sejarahnya.
Upaya pengusulan ini kini memasuki fase krusial. Seminar nasional yang digelar Yayasan Vasatii Socaning Lokika menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat bukti akademik dan historis. Dukungan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X turut memberi legitimasi politik dan kultural yang signifikan.
Pada akhirnya, polemik ini melampaui sekadar pemberian gelar. Ia menyentuh dimensi yang lebih dalam: konsistensi negara dalam menghargai sejarahnya sendiri. Menunda pengakuan terhadap Sultan HB II bukan hanya soal administratif, tetapi juga tentang bagaimana bangsa ini menempatkan keberanian, integritas, dan perlawanan sebagai fondasi identitas nasional.


