JAKARTAN,TERMINALNEWS.Co- | Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK), sebuah penghargaan untuk karya-karya sastra Indonesia kembali diselenggarakan tahun 2025 ini. Setelah beberapa tahun berpulangnya Richard Oh (1959-2022), sineas dan sastrawan inisiator dan pelaksana KSK selama dua dekade lebih, Pratiwi Juliani, istri mendiang Richard Oh, bersama Linda Oh, adik mendiang Richard Oh, berinisiatif mendirikan Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) untuk melanjutkan pelaksanaan KSK.
Pratiwi Juliani, Ketua YRKI menyampaikan bahwa inisiatif ini tentu tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan dari banyak pihak.
“Kami bahagia menyaksikan dan menjalani tahap demi tahap kembalinya Kusala Sastra Khatulistiwa. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu mewujudkan niat baik ini,” ungkap Pratiwi Juliani.
Gema Laksmi Mawardi, Direktur Program Kusala Sastra Khatulistiwa menyatakan bahwa pelaksanaan KSK tahun ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
“Kami melangkah dengan pendampingan tiga orang kurator yang sangat membantu, Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria,” tutur Gema Laksmi Mawardi.
Kusala Sastra Khatulistiwa adalah penghargaan untuk karya sastra terbaik sepanjang tahun, yang menunjukkan pengerahan kerja kreatif sastrawan Indonesia, pengembangan potensi estetis dalam penggunaan bahasa Indonesia, dan perluasan kemungkinan wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas kehidupan masyarakat Indonesia. Buku-buku yang dinilai tahun ini adalah buku-buku yang diterbitkan sepanjang tahun 2024, terbagi dalam tiga kategori yaitu Kumpulan Cerpen, Novel, dan Kumpulan Puisi.
Kurator KSK Nezar Patria menyebut bahwa kurator dan yayasan sebagai penyelenggara memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada dewan juri untuk memilah, memilih, dan memutuskan karya-karya mana yang dianggap terbaik.
“Daftar Pendek ini menjadi penyemangat untuk mendorong lebih banyak munculnya karya-karya sastra bermutu, dan mempromosikan karya tersebut kepada pembaca luas. Dari karya terpilih kita melihat keragaman sudut pandang, dan kekayaan cara bertutur,yang merekam jagad batin manusia Indonesia dalam memaknai kehidupan hari ini,” demikian disampaikan Nezar Patria.
Lebih jauh, menurut kurator KSK Eka Kurniawan, KSK hadir bukan hanya untuk memberi penghargaan, tetapi juga mengingatkan kita betapa sastra mampu menjadi ruang untuk saling memahami, bertukar sapa dan gagasan, dan bahkan sebagai tantangan pada cara kita berpikir.
“Bagi pembaca, mereka bisa menjelajahi berbagai kemungkinan makna melalui cerita maupun puisi. Bagi penulis dan penyair, ini merupakan apresiasi atas kerja dan gagasan kreatif mereka. Bahkan bagi sebuah bangsa, karya-karya ini langsung atau tidak langsung, sedang menyusun ulang bangunan identitas kita.Daftar pendek ini berisi lima karya di masing-masing kategori. Mereka bukan sekadar tulisan, tapi juga suara-suara yang kerap terdengar sayup di tengah gempuran pekak suara zaman. Di setiap karya, kita mungkin akan menemukan keindahan, sebagaimana juga akan menemukan kegelisahan. Ada harapan, sekaligus jerit keputusasaan. Jika jalanan dan kota-kota menjadi petunjuk peta geografi sebuah negara, maka karya-karya ini tengah menyusun peta keadaan jiwa sebuah bangsa,” papar Eka Kurniawan.Selain itu, kurator KSK Hasan Aspahani mengungkapkan bahwa Daftar Pendek ini memaparkan apa yang diniatkan dalam penyelenggaraan KSK.
“Dari Daftar Pendek ini, dan siapa pun nanti satu pemenang di antaranya, kita bisa melihat apa yang diniatkan oleh Kusala Sastra Khatulistiwa, yaitu karya-karya sastra yang menunjukkan pengerahan daya kreatif, energi, dan kerja mencipta sastrawan Indonesia. Jika bicara potensi estetis bahasa, seharusnya tak ada batas dan tak ada yang membatasi sastrawan kita untuk menggali sedalam-dalamnya. Terutama pada puisi. Kita ingin bersama-sama melihat itu dan merayakannya.Pada prosa—cerpen dan novel—kita terutama ingin digugah, dikejutkan, atau disadarkan oleh sastrawan kita tentu lewat karyanya, dengan imajinasinya, dan penguasaannya atas keterampilan teknis menulis, bagaimana kita melihat realitas kehidupan kita,” demikian disampaikan Hasan Aspahani.
Berikut adalah keputusan Dewan Juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.
Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025
Kategori Kumpulan Cerpen
1. Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama
2. Iblis Tanah Suci karya Arianto Adipurwanto
3. Keluarga Oriente karya Armin Bell
4. Mei Salon karya Iin Farliani
5. Musik Akhir Zaman karya Kiki Sulistyo
Kategori Novel
1. BEK Karya Mahfud Ikhwan
2. Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday
3. Matthes karya Alan TH
4. Oni Jouska karya Asep Ardian
5. Paya Nie karya Ida Fitri
Kategori Kumpulan Puisi
1. Dengung Tanah Goyah karya Iyut Fitra
2. Hantu Padang karya Esha Tegar Putra
3. Nyawa, Tinggalah Sejenak Lebih Lama karya Pranita Dewi
4. Syekh Siti Jenar dan Sepinggan Puisi dalam Kobaran Api karya Syaiful Alim
5. Tilas Genosida karya A. Muttaqin
Daftar Pendek ini disusun berdasarkan urutan abjad.


