Kenangan Manis dan Pahit di Sirkuit Interlagos
Brasil menjadi lokasi salah satu momen paling dramatis dalam sejarah F1, yakni pada musim 2008. Saat itu, Hamilton merebut gelar juara dunia pertamanya setelah menyalip Timo Glock di lap terakhir dan unggul satu poin atas Felipe Massa. Tim Ferrari bahkan sempat merayakan kemenangan sebelum menyadari Hamilton telah mencuri titel di tikungan akhir.
Namun, sirkuit yang sama juga menjadi saksi penderitaan Hamilton pada Grand Prix Brasil 2021, ketika ia mendapatkan hukuman paling berat dalam kariernya. Setelah meraih pole position di sesi sprint qualifying, Hamilton dihapus dari hasil kualifikasi karena pelanggaran teknis pada sayap belakang mobilnya. Ia harus memulai balapan sprint dari posisi paling belakang.
Meski begitu, Hamilton tampil luar biasa dengan melesat dari posisi ke-20 hingga finis di urutan kelima dalam 24 lap. Namun nasib sial belum berhenti — ia kembali mendapat penalti grid lima posisi karena Mercedes mengganti komponen mesin.
Keajaiban kembali terjadi di hari balapan utama. Hamilton menyalip satu per satu lawannya dan akhirnya menang dengan selisih lebih dari 10 detik dari rival utamanya, Max Verstappen. Kemenangan tersebut menjadi salah satu performa paling mengesankan dalam sejarah F1 modern.
Hamilton bahkan memenangkan dua seri berikutnya di Qatar dan Arab Saudi, membawa perebutan gelar dunia ke seri penutup di Abu Dhabi. Sayangnya, ia gagal meraih gelar kedelapan karena keputusan kontroversial dari pihak FIA — yang kemudian menjadi bahan investigasi.
Perjuangan Hamilton di Ferrari Belum Berbuah Manis
Kini, di usia 40 tahun, Hamilton tengah fokus menutup musim perdananya bersama Ferrari dengan hasil positif. Ia terakhir kali naik podium pada Grand Prix Las Vegas 2024, dan belum meraih kemenangan sejak Grand Prix Belgia tahun lalu.
Performa yang belum konsisten membuat banyak pihak mulai mempertanyakan apakah Hamilton masih berada di level tertinggi. Mantan bos F1, Bernie Ecclestone, bahkan menilai bahwa sang legenda sudah kehilangan sentuhannya.
“Hamilton adalah salah satu yang terbaik dalam sepuluh tahun terakhir, tapi dia bukan yang terbaik,” kata Ecclestone dalam wawancara dengan sport.de, dikutip dari PlanetF1.
“Segalanya mulai menjauh darinya. Dia datang ke Ferrari untuk menjadi juara dunia, dan kini terkejut karena tak bisa mencapainya,” tambahnya.
Ecclestone juga mengkritik kolaborasi Hamilton dan Ferrari, menyebutnya sebagai “proyek pemasaran finansial” semata. Meski begitu, kontrak Hamilton bersama Ferrari masih berlaku hingga akhir musim 2026.
Dengan selisih 64 poin di belakang rekan setimnya Charles Leclerc di klasemen sementara pebalap, Hamilton masih punya kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya tetap layak disebut sebagai salah satu pebalap terbaik sepanjang masa.


