JAKARTA, TERMINALNEWS.ID – Komunitas sepeda ASPAL melakukan kunjungan ke Saung Tri Waluyo di Muara Angke, Jakarta Utara, Minggu (15/2/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Rombongan bergerak dari kawasan Kota Tua Jakarta setelah sebelumnya menggelar gowes bersama Rodalink Kelapa Gading.
Setelah finis di Kota Tua, rombongan sempat singgah di posko Komunitas Sepeda Fatahillah Cycling Club (FCC). Kedatangan mereka disambut hangat oleh para anggota FCC, termasuk Ketua FCC, Ali.
Dari Kota Tua, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Saung Tri Waluyo, yang juga dikenal dengan sapaan pak Dewan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta.
Silaturahmi dan Bahas Isu Sosial Jakarta
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka silaturahmi sekaligus berdiskusi mengenai berbagai persoalan sosial kemasyarakatan di Jakarta.
Daru—alumni SMAN 45 Jakarta angkatan 1985—mengungkapkan sejumlah isu yang menjadi perhatian, mulai dari bantuan sosial (bansos), banjir, tawuran remaja, hingga persoalan ijazah siswa yang masih tertahan di sekolah akibat tunggakan biaya.
“Kita banyak sharing soal persoalan di Jakarta, khususnya yang berkaitan dengan sosial kemasyarakatan. Termasuk soal bansos, banjir, tawuran, sampai masih adanya ijazah siswa yang tertahan karena tunggakan,” ujar Daru.

Sosok Tri Waluyo Dinilai Terbuka dan Merakyat
Dalam kesempatan yang sama, Agus Sulistiono atau akrab disapa Asul, alumni SMAN 45 Jakarta angkatan 1983, menyampaikan pandangannya tentang sosok Tri Waluyo.
Menurut Asul, Tri Waluyo merupakan pribadi yang terbuka dan tidak membeda-bedakan siapa pun yang datang berkunjung ke saungnya.
“Pak dewan ini pribadi yang menyenangkan. Siapa pun yang datang pasti diterima dengan senang hati. Kami merasa nyaman dan diterima,” ujar Asul, yang juga menjabat sebagai Ketua RW di Kelurahan Rawa Badak Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
Ia bahkan menyebut Tri Waluyo sebagai gambaran ideal seorang anggota DPRD Jakarta. “Saya bermimpi kalau para anggota DPRD Jakarta seperti beliau, pasti banyak persoalan warga bisa terakomodasi dengan baik,” tambahnya.
Gagasan Sasana Tinju untuk Redam Tawuran
Dalam diskusi tersebut, Tri Waluyo juga menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya tawuran remaja, baik di kalangan pelajar maupun kelompok masyarakat.
“Saya terus terang prihatin melihat mereka. Saya berencana membuat semacam sasana tinju agar para remaja bisa melampiaskan amarahnya di ring tinju, bukan di jalanan. Sekaligus menumbuhkan nilai-nilai sportivitas,” jelasnya.
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Mustika Bayu, alumni SMAN 45 Jakarta angkatan 1983. Ia menilai ide pembangunan sasana tinju sebagai langkah positif dan visioner untuk menekan angka tawuran.
“Ini gagasan luar biasa. Dengan berolahraga, remaja bisa terhindar dari hal-hal negatif seperti tawuran. Biasanya pemicunya miras, narkoba, mudah tersinggung, atau faktor sosial ekonomi keluarga,” ujar Bayu.
Ia berharap rencana tersebut dapat segera direalisasikan sehingga Jakarta tidak lagi diwarnai kabar tawuran remaja.
“Kita harus mendukung gagasan visioner dari Pak Tri Waluyo sebagai anggota DPRD Jakarta. Semoga fasilitas olahraga seperti ini benar-benar terwujud,” pungkasnya.


