JAKARTA,TERMINALNEWS.ID – Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, melakukan dialog strategis dengan Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, di Wisma Danantara, Jakarta. Pertemuan ini membahas penguatan kolaborasi dalam optimalisasi aset budaya nasional sebagai penggerak ekonomi budaya dan industri kreatif Indonesia.
Aset Budaya sebagai Living Heritage
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa aset budaya Indonesia harus menjadi kekuatan ekonomi yang memberi manfaat luas bagi negara dan masyarakat.
“Kita ingin aset budaya menjadi living heritage, bukan sekadar dead monument. Cagar budaya harus memberi dampak ekonomi, sosial, dan kebudayaan secara berkelanjutan,” ujar Fadli Zon.
Setelah penandatanganan kerja sama pengelolaan kawasan Candi Borobudur, pemerintah mendorong perluasan kolaborasi ke kawasan Candi Prambanan, Ratu Boko, serta Candi Palosan yang baru selesai direvitalisasi.
Pemerintah juga mendorong sinergi dengan InJourney dan entitas di bawah Danantara guna memperkuat tata kelola destinasi, meningkatkan daya tarik wisata, serta mengoptimalkan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Indonesia Menuju Venice Biennale 2026
Menteri Kebudayaan turut menyoroti pentingnya dukungan terhadap partisipasi Indonesia dalam Venice Biennale 2026, pameran seni rupa terbesar di dunia.
Menurutnya, kehadiran Indonesia bukan hanya agenda diplomasi budaya, tetapi bagian dari strategi cultural economy.
“Venice Biennale adalah etalase dunia. Ini bukan sekadar pameran, tetapi ruang eksposur global dan transaksi ekonomi kreatif. Indonesia harus hadir.”
Sebagai langkah awal, tujuh seniman akan mengikuti program residensi selama dua bulan di Venesia, disertai tujuh seniman lain dalam kolaborasi jejaring nasional. Pemerintah menargetkan Indonesia memiliki paviliun permanen dalam dua tahun mendatang.
Menanggapi hal tersebut, Dony Oskaria menyatakan dukungan Danantara dengan menekankan pentingnya parameter keberhasilan yang terukur.
“Setiap partisipasi internasional harus memiliki KPI dan pesan strategis yang jelas. Dengan indikator terukur, dampaknya akan lebih kuat dan berkelanjutan.”
Penguatan Ekosistem Perfilman Nasional
Dalam dialog tersebut, Menteri Kebudayaan juga menyoroti kebutuhan penguatan infrastruktur perfilman nasional. Saat ini Indonesia memiliki sekitar 2.500 layar bioskop, sementara kebutuhan ideal diperkirakan mencapai 10.000 layar.
Kolaborasi dengan Perusahaan Film Negara (PFN) dan entitas terkait diharapkan dapat memperluas pembangunan bioskop di kabupaten/kota guna meningkatkan akses masyarakat sekaligus memperkuat industri film nasional.
Optimalisasi Museum Naskah Proklamasi
Pembahasan juga mencakup pengembangan Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol, Jakarta. Menteri Kebudayaan mengusulkan pemanfaatan gedung eks Jiwasraya di belakang kompleks museum untuk memperluas fungsi edukasi serta penguatan narasi sejarah kebangsaan.Dony Oskaria menyatakan kesiapan Danantara mendukung koordinasi teknis pengembangan kawasan tersebut.
Transformasi Tata Kelola Terpadu
Terkait pengelolaan Borobudur dan destinasi sekitarnya, Dony menegaskan pentingnya transformasi tata kelola terpadu guna meningkatkan kunjungan wisata dan konektivitas, termasuk penguatan akses penerbangan menuju Yogyakarta.
“Borobudur dan destinasi lain harus dimanfaatkan maksimal untuk Indonesia. Optimalisasi aset ini pada akhirnya untuk negara dan masyarakat.”
Pertemuan ini turut dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra, Managing Director (Holding Operasional Danantara) Febriany Eddy, serta jajaran Danantara.
Pertemuan ini menjadi langkah awal penguatan sinergi strategis antara Kementerian Kebudayaan dan Danantara dalam menjadikan kebudayaan sebagai pilar ekonomi masa depan. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu memastikan warisan budaya Indonesia tidak hanya terjaga kelestariannya, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan posisi Indonesia di tingkat global.|SumberKemenbudRI

