Salat Id di Lawang Sewu, Menemukan Hening di Tengah Riuh Sejarah
SEMARANG,TERMINALNEWS.ID -| Di tengah geliat arus mudik dan hiruk-pikuk perayaan Hari Raya, sebuah ruang sunyi justru dihadirkan di jantung kota Semarang. Halaman Lawang Sewu bangunan bersejarah yang selama ini lekat dengan jejak kolonial dan pariwisata kembali menjadi tempat bersujud.
Pada Idulfitri tahun ini, PT Kereta Api Pariwisata atau KAI Wisata menggelar Salat Id untuk kedua kalinya. Setelah sukses menarik antusiasme masyarakat pada 2025, kegiatan ini kembali dihadirkan sebagai ruang kebersamaan yang melampaui fungsi wisata semata.
Sejak subuh, jamaah diperkirakan mulai berdatangan. Dengan target 700 hingga 1.000 orang, halaman Lawang Sewu akan menjadi lautan sajadah yang menghadap satu arah: keheningan, doa, dan harapan baru. Salat Id dijadwalkan berlangsung pukul 05.30 hingga 08.30 WIB, dipimpin oleh H. Machasin sebagai imam dan khatib, serta Arda Nur Yulian sebagai bilal.
Bagi KAI Wisata, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial. Direktur Utama KAI Wisata, Raden Agus Dwinanto Budiadji, menegaskan bahwa penyelenggaraan Salat Id di Lawang Sewu adalah bagian dari upaya menghadirkan pengalaman yang utuh bukan hanya perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin.
“Lawang Sewu memiliki potensi besar sebagai ruang publik yang inklusif dan bermakna,” ujarnya. Pernyataan itu menegaskan pergeseran cara pandang terhadap destinasi wisata: dari sekadar tempat berkunjung menjadi ruang hidup yang menyatukan nilai sejarah, sosial, dan spiritual.
Pelaksanaan salat akan mengikuti arahan pemerintah terkait penetapan Hari Raya yaitu hari Sabtu(21/3) dengan harapan seluruh rangkaian ibadah berlangsung tertib, aman, dan nyaman. Masyarakat yang hadir diimbau membawa perlengkapan ibadah masing-masing—sebuah detail kecil yang sekaligus menegaskan semangat kemandirian dalam kebersamaan.
Di tengah lanskap bangunan tua dengan pintu-pintu tinggi yang menjadi ciri khas Lawang Sewu, gema takbir akan menemukan resonansinya sendiri. Di sana, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi juga dirawat melalui aktivitas yang memberi makna baru.
KAI Wisata berharap, inisiatif ini dapat memperkuat posisi Lawang Sewu sebagai destinasi yang bukan hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan masa kini tempat masyarakat berbagi momen hangat dalam balutan nilai spiritual.
Pada akhirnya, Salat Id di Lawang Sewu bukan hanya tentang lokasi yang berbeda. Ia adalah upaya menghadirkan kembali esensi Idulfitri: kembali ke fitrah, dalam ruang yang mengingatkan bahwa perjalanan manusia selalu berkelindan antara sejarah, kebersamaan, dan harapan.


