TERMINALNEWS.ID, JAKARTA – Mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi salah satu kekuatan sepak bola yang disegani.
Menurutnya, Indonesia tidak pernah kekurangan pemain berbakat. Namun, potensi tersebut harus didukung sistem pembinaan yang terarah dan berkelanjutan.
Pandangan Shin Tae-yong tersebut mendapat perhatian dari pengamat sepak bola, Joseph Erwiyantoro. Ia menilai, salah satu pekerjaan rumah terbesar sepak bola Indonesia adalah membangun sistem pembinaan usia dini yang konsisten, sekaligus meningkatkan kualitas para pelatih di level akar rumput.
Berbicara di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu, Shin Tae-yong mengungkapkan keyakinannya terhadap masa depan sepak bola Indonesia. Ia menilai banyaknya pemain berbakat harus diimbangi dengan sistem pengembangan yang mampu mengoptimalkan kemampuan mereka.
“Indonesia tidak pernah kekurangan bakat. Jika sistem seperti ini dapat dibentuk dengan baik, saya memiliki keyakinan bahwa sepak bola Indonesia dapat berkembang pesat,” ujar Shin Tae-yong.

Menurut Erwiyantoro, Shin juga menyoroti pentingnya keterlibatan para legenda sepak bola Indonesia dalam membina generasi muda. Pengalaman, pengetahuan, serta pemahaman sepak bola yang dimiliki para mantan pemain dinilai dapat menjadi modal berharga untuk memperkuat fondasi sepak bola nasional.
Karena itu, Erwiyantoro menekankan perlunya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan sepak bola dalam membangun ekosistem pembinaan yang berkualitas. Fokus pembinaan, menurutnya, tidak boleh semata-mata mengejar prestasi atau hasil instan, tetapi harus diarahkan pada proses pembentukan pemain sejak usia dini.
“Kini, pertanyaannya adalah bagaimana semua pihak bisa bekerja sama membangun pembinaan usia dini yang berkualitas, bukan hanya berfokus pada hasil instan,” ujar pria yang akrab disapa Toro tersebut.
Toro sendiri dikenal sebagai pencetus Kompetisi Liga Jakarta U-17 dan Liga Soeratin Jakarta U-15 yang saat ini masih berlangsung di Lapangan PSF Pancoran. Kedua kompetisi tersebut menjadi salah satu upaya untuk memberikan ruang bagi pemain muda dalam mengembangkan kemampuan dan mendapatkan pengalaman bertanding.
Ia berharap pembinaan sepak bola nasional tidak hanya bertumpu pada bakat alamiah pemain, tetapi juga ditopang kompetisi berjenjang, pelatih berkualitas, serta sistem pengembangan yang konsisten.
“Indonesia punya bakat, tetapi apakah sistem pembinaan kita sudah cukup kuat untuk melahirkan pemain berkualitas secara konsisten?” tanya Toro.
Pertanyaan tersebut menjadi refleksi penting bagi sepak bola Indonesia. Sebab, melahirkan pemain berbakat mungkin bukan persoalan utama. Tantangan sesungguhnya adalah membangun sistem yang mampu mengasah, mengembangkan, dan melahirkan pemain berkualitas secara berkesinambungan.

