JAKARTA,TERMINALNEWS.ID – Bayangkan berjalan di tengah rindangnya pepohonan, melintasi jalur pejalan kaki yang teduh, sambil menghirup udara segar di jantung kota. Itulah gambaran masa depan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ketika tiga taman legendaris—Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Leuser—resmi terhubung menjadi satu: Taman Bendera Pusaka.
Proyek ruang terbuka hijau seluas enam hektare ini diinisiasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan sejarah. Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, M. Fajar Sauri, mengatakan konsepnya mengembalikan fungsi taman sebagai paru-paru kota.
“Desain taman mempertimbangkan ekologi. Pohon-pohon eksisting akan dilestarikan, sumber daya dijaga, dan kualitas lingkungan ditingkatkan,” ujarnya, Jumat (8/8).
Menuju Taman dengan Cara yang Hijau
Tak hanya mengubah wajah taman, proyek ini juga mengubah cara warga menikmatinya. Nirwono Joga, Pakar Tata Kota dan Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota, menekankan pentingnya mobilitas ramah lingkungan.
“Kita ingin orang menuju taman menggunakan transportasi publik atau berjalan kaki. Karena itu, trotoar yang menghubungkan tiga taman akan direvitalisasi,” jelasnya.
Lokasinya yang dekat dengan MRT dan Transjakarta membuat akses ke taman semakin mudah tanpa kendaraan pribadi, sejalan dengan semangat “menuju tempat hijau dengan cara yang hijau.”
Simbol Persatuan dari Sang Saka
Nama Bendera Pusaka dipilih bukan tanpa alasan. Layaknya jahitan benang merah-putih yang dirangkai Ibu Fatmawati, tiga taman ini dijahit menjadi satu kesatuan ruang publik. Pesannya jelas: menyatukan kekayaan alam untuk dinikmati bersama, melampaui sekat sosial maupun geografis.
Dari Kota Taman ke Kota Global
Kebayoran Baru bukan sembarang lokasi. Kawasan ini dirancang oleh insinyur M. Soesilo pada 1948 dengan konsep kota taman yang mengutamakan ruang hijau publik. Kini, seiring posisinya sebagai sentra ASEAN, penataan taman dilakukan dengan standar internasional dan mengedepankan prinsip keberlanjutan.
“Ini mengembalikan sejarah kota, sejarah bangsa lewat bendera pusaka, sekaligus menempatkan Jakarta di panggung global,” tutur Nirwono.| Foto : Istimewa

