JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Kali ini, Ibu Kota terpilih sebagai satu dari 19 kota dunia yang berpartisipasi dalam Leadership Exchange Programme (LEP) 2025, yang digagas oleh World Cities Culture Forum (WCCF).
Pada edisi ketiga program ini, Jakarta berkolaborasi dengan Kota Milan, Italia, mengusung tema Public Art and Co-Creation — seni publik berbasis kolaborasi. Lewat tema ini, Jakarta dan Milan ingin menegaskan bahwa seni bukan hanya tentang karya, melainkan juga tentang keterlibatan warga dalam membangun identitas dan kebanggaan terhadap kota mereka.
“Kami berharap kolaborasi ini melahirkan karya seni publik yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga dan kedekatan emosional warga terhadap budaya Jakarta,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, di Jakarta, Selasa (7/10).
Program “Titik Temu”: Menghidupkan Budaya dari Kampung ke Kota
Dalam LEP 2025, Jakarta mengangkat program andalannya bertajuk “Titik Temu” (The Meeting Point) — sebuah inisiatif yang menghubungkan kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya di tingkat komunitas. Program ini berupaya menghidupkan 44 kecamatan dan 267 kelurahan agar menjadi pusat budaya yang aktif, berkelanjutan, dan inklusif.
Program ini juga menjadi bagian dari langkah strategis menuju visi “Jakarta sebagai Kota Global dan Berbudaya” dalam RPJMD 2025–2029. Saat ini, Jakarta menempati peringkat ke-74 dari 156 kota dunia, dan menargetkan masuk 20 besar pada tahun 2045.
Tak hanya itu, “Titik Temu” juga menjadi momentum untuk memperkaya pengalaman budaya warga menjelang perayaan 500 tahun Jakarta pada 2027 — sebuah perayaan besar yang diharapkan menjadi simbol transformasi Jakarta dari pusat pemerintahan menjadi kota budaya dunia.
Kolaborasi Global untuk Masa Depan Kota yang Inklusif
Partisipasi Jakarta menempatkannya sejajar dengan kota-kota besar dunia seperti London, New York, Barcelona, São Paulo, Toronto, dan Dubai. Secara keseluruhan, LEP 2025 diikuti oleh 19 kota dari enam benua, termasuk Amsterdam, Guangzhou, Kyiv, Los Angeles, Montréal, Stockholm, dan Warsawa.
Pendiri sekaligus Ketua WCCF, Justine Simons OBE, yang juga menjabat sebagai Wakil Wali Kota London Bidang Kebudayaan dan Industri Kreatif, menilai bahwa kolaborasi antarkota seperti ini adalah kunci menuju perubahan nyata.
“Ketika para pemimpin kota berbagi ide dan praktik terbaik, mereka mempercepat transformasi dan membuka potensi budaya untuk membangun masa depan kota yang lebih baik,” ujar Justine.
Sementara itu, Direktur WCCF, Laia Gasch, menekankan pentingnya solidaritas global di tengah berbagai tantangan urban seperti migrasi, perubahan iklim, dan ketimpangan sosial.
“Leadership Exchange Programme hadir untuk memperkuat kerja sama dan mempercepat perubahan melalui kekuatan budaya,” ujarnya.
Budaya sebagai “Benang Emas” Kota Dunia
Sejak diluncurkan pada 2018, LEP telah melibatkan lebih dari 185 pemimpin dari 22 kota di seluruh dunia. Program ini terbukti menjadi ruang efektif untuk bertukar ide, meniru kebijakan sukses, dan menumbuhkan inovasi budaya di berbagai kota.
WCCF sendiri memandang budaya sebagai “benang emas” dalam kehidupan kota — unsur yang mempererat komunitas, meningkatkan kesejahteraan, menarik wisatawan, dan memperkuat perekonomian.
Melalui forum ini, Jakarta bukan hanya memperkenalkan budaya Betawi ke panggung dunia, tetapi juga menegaskan bahwa budaya adalah fondasi utama pembangunan kota modern yang inklusif, kreatif, dan berdaya saing global.|Foto : Istimewa


