JAKARTA,TERMINALNEWS.ID — Indonesia Music Summit (IMUST) 2025 yang digelar Sashana.ID pada 19–20 November di Taman Ismail Marzuki kembali membuka ruang diskusi bagi para pelaku musik. Namun di tengah geliat wacana “kolaborasi lintas sektor”, pertanyaan utamanya tetap sama setiap tahun: apakah forum semacam ini benar-benar menghasilkan perubahan nyata, atau justru hanya memperpanjang daftar diskusi tanpa tindak lanjut?
Dhani “Pette” Widjanarko, Project Director IMUST 2025, menyebut forum ini sebagai tempat yang jujur dan inklusif.
“Kita harus berhenti sejenak dan mendengar,” ujarnya. Namun, kritik yang sering muncul dari musisi akar rumput adalah bahwa ruang-ruang diskusi seperti ini masih didominasi nama-nama besar, sementara isu yang dialami pelaku skala kecil jarang diterjemahkan menjadi kebijakan atau langkah konkret.”Ujarnya,dalam Siaran Pers,Senin(17/11)
Hak Cipta dan Distribusi Digital: Isu Menahun yang Tak Kunjung Tuntas
Salah satu fokus IMUST 2025 adalah hak kekayaan intelektual—isu yang sebenarnya sudah bertahun-tahun menjadi PR nasional. Praktik pembagian royalti yang tidak transparan, tarik-menarik kewenangan Lembaga Manajemen Kolektif, hingga minimnya literasi kontrak bagi musisi tetap menjadi persoalan mendasar.
Namun pertanyaan kritisnya:
Apakah IMUST akan menghadirkan mekanisme penyelesaian?
Atau sekadar mengulang diagnosis masalah yang semua orang dalam industri sudah tahu?
Distribusi digital pun tak luput dari sorotan. Algoritma platform musik global terus berubah, menekan musisi independen yang tak memiliki daya promosi besar. Tanpa kehadiran regulasi lokal yang melindungi kreator, wacana ini terancam berhenti hanya menjadi keluhan kolektif.
Ketimpangan dalam Ekosistem: Yang Besar Kian Besar
Kehadiran nama-nama populer seperti Ariel NOAH, Piyu Padi Reborn, Giring Ganesha, Once Mekel, hingga Adi Adrian dan Endah Widiastuti memang menjanjikan diskusi menarik. Namun kritikus industri menilai bahwa IMUST berisiko menjadi ruang di mana suara kuat kembali mendominasi narasi.
Di sisi lain, musisi independen—yang selama ini menghadapi persoalan paling konkret, mulai dari ongkos produksi hingga ketidakpastian pendapatan—masih menunggu apakah pandangan mereka akan benar-benar dijadikan landasan rekomendasi kebijakan.
Sejumlah penggerak skena menyebut bahwa forum industri kerap lupa memprioritaskan isu yang paling dekat dengan musisi:
akses panggung, keberlanjutan ekonomi, dan ketimpangan sumber daya.
Efek Rumah Kaca: Perayaan di Tengah Ketidakpastian
Special Show “10 Tahun Sinestesia” menghadirkan momen refleksi artistik, namun sekaligus ironi. ERK adalah contoh band yang mampu bertahan dengan idealisme kuat—sesuatu yang hari ini semakin sulit dilakukan tanpa dukungan infrastruktur industri yang sehat.
Perayaan karya besar selalu menyenangkan, tapi pertanyaannya:
apakah masa depan musisi Indonesia akan terus bergantung pada idealisme personal, bukan ekosistem yang mendukung?
Harapan: Dari Obrolan ke Aksi Nyata
IMUST 2025 menghadirkan banyak gagasan dan energi. Namun ekosistem musik Indonesia sudah terlalu sering mendengar janji perubahan tanpa tindak lanjut.
Tantangannya kini:
Apakah rekomendasi forum akan diteruskan ke pembuat kebijakan?
Apakah pelaku musik di luar pusat industri mendapat ruang representasi?
Apakah musisi independen akan merasakan dampak konkret dari diskusi panjang ini?
Hasil IMUST tahun ini akan menjadi penanda apakah forum ini mampu melampaui citra seremoni dan menjadi wadah perubahan nyata atau justru menambah panjang daftar konferensi musik yang ramai wacana, sepi implementasi.|Foto : Instagram@arielnoah

