JAKARTA,TERMINALNEWS.ID -| Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) menegaskan komitmennya untuk memperkuat sektor hilir perfilman nasional, khususnya pada aspek promosi, distribusi, dan pemasaran. Langkah ini ditempuh guna mendorong karya film Indonesia agar tidak hanya berkualitas, tetapi juga mampu bersaing di pasar global.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif, Agustini Rahayu, mengatakan bahwa peran Ekraf memang difokuskan pada penguatan hilirisasi karya.
“Kami membantu promosi karena Ekraf lebih ke hilir fokusnya. Jadi dari karya yang ada menjadi karya berkualitas dan berdaya saing global,” ujar Rahayu usai mengikuti Rapat Panitia Kerja (Panja) bersama Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Selain promosi, Ekraf juga tengah menyusun panduan atau guideline terkait proses syuting dengan mengompilasi berbagai kebijakan lintas kementerian. Selama ini, menurut Rahayu, persoalan utama yang kerap dihadapi pelaku perfilman adalah minimnya kejelasan dan kelengkapan informasi perizinan.
Ia menyebut terdapat setidaknya tujuh kementerian, lembaga, dan organisasi yang memiliki kebijakan masing-masing terkait perfilman. Seluruh ketentuan tersebut kini tengah dikompilasi agar menjadi satu pintu informasi yang terintegrasi dan mudah diakses.
Dari sudut pandang ekonomi kreatif, Rahayu menilai tantangan terbesar perfilman nasional terletak pada distribusi dan pemasaran. Karena itu, fokus pembahasan Panja dinilainya selaras dengan kebutuhan industri.
“Kalau dari kacamata ekonomi kreatif, masalah utamanya distribusi. Setelah distribusi tentu pemasaran, dan dari situ baru investasi bisa masuk,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim menyoroti keterbatasan jumlah layar bioskop sebagai kendala utama dalam distribusi film nasional. Ia menilai, meskipun produksi film Indonesia terus meningkat, persaingan tema dan selera penonton masih menjadi tantangan nyata.
“Kami bertemu dengan rumah produksi yang memiliki komitmen besar menjaga kualitas film. Namun selera pasar memang cenderung lebih tinggi ke genre horor dibandingkan genre lainnya,” kata Chusnunia.
Ia menambahkan, meski pasar lebih condong ke genre populer, para produser tetap berupaya menjaga kualitas produksi. Namun demikian, penambahan jumlah layar di berbagai kota dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menjangkau penonton yang jumlahnya terus meningkat setiap tahun.
Chusnunia juga menekankan pentingnya perhatian khusus pada generasi muda, khususnya Gen Z dan Gen Alpha, yang pola konsumsinya semakin bergeser ke platform video daring.
“Tantangan sekaligus peluangnya ada di sana. Selera Gen Z dan Gen Alpha banyak mengarah ke video dan platform seperti Netflix. Ini yang perlu dipertimbangkan apakah masih layak dikejar dan bagaimana strateginya,” ujarnya.|Foto : Istimewa


